MEDIA EMITEN – Setidaknya ada lima faktor yang akan mempengaruhi pergerakan pasar dalam sepekan ke depan, salah satu yang ditunggu adalah risalah rapat Federal Reserve (The Fed) pada Rabu waktu AS.
Kekhawatiran Fed akan memberlakukan kebijakan lebih ketat dan perkembangan seputar konflik di Ukraina menjadi fokus utama investor. Selain itu, gejolak pasar komoditas juga menjadi sorotan.
Berikut lima faktor yang diperkirakan mempengaruhi pasar pekan depan, yang dikutip dari berbagai sumber:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
1. Risalah Fed
Pertemuan Fed menjadi perhatian pasar yang memberi sinya pada investor terkait bagaimana pejabat memandang prospek kebijakan moneter dan kemungkinan juga berisi rincian lanjutan mengenai rencana untuk mengurangi neraca keuangan bank sentral senilai US$9 triliun.
Bulan lalu, The Fed telah menaikkan suku sebesar 25 bps, langkah pertama dalam siklus pengetatan moneter yang bertujuan untuk menahan lonjakan inflasi. Ketua Jerome Powell, telah mengindikasikan siap untuk menaikkan suku bunga lebih agresif guna mencegah inflasi yang tinggi mengakar.
Laporan ketenagakerjaan yang positif hari Jumat lalu membuka jalan bagi kenaikan suku bunga 50 bps dari Fed dalam pertemuan berikutnya pada 4 Mei.
Baca Juga:
Krisis Pinjol Indonesia: Tembus Rp100 Triliun, Ini Cara FLIN Bantu Keluar dari Siklus Utang
2. Pasar Obligasi
Kurva imbal hasil Treasury AS menunjukkan kenaikan pada Jumat di level 2,39%. Laporan pekerjaan AS yang kuat meningkatkan ekspektasi untuk kenaikan suku bunga yang lebih besar oleh The Fed.
Pasar saham tampaknya mengabaikan kekhawatiran bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat dan ketidakpastian yang timbul dari perang di Ukraina dapat mengarahkan ekonomi ke dalam resesi. Namun, investor obligasi tampaknya telah mengambil pandangan yang lebih pesimis.
3. Volatilitas Harga Minyak
Harga minyak mentah Brent dan minyak AS West Texas Intermediate (WTI) jatuh sekitar 13% sepekan, penurunan mingguan terbesar dalam dua tahun setelah Presiden AS Joe Biden mengumumkan pelepasan cadangan minyak 1 juta barel per hari selama enam bulan dari Mei.
Invasi Rusia ke Ukraina telah mendorong harga minyak naik sekitar 30% pada kuartal I, seiring melonjaknya biaya energi menjadi pendorong utama ekspektasi inflasi.
Tetapi analis pasar energi tampak skeptis terhadap keberhasilan rencana tersebut.
4. Data ekonomi
Kalender ekonomi untuk minggu depan adalah pengumuman indeks PMI dan jasa ISM pada Selasa waktu setempat.
Para ekonom memperkirakan indeks PMI akan rebound ke level 58 yang mencerminkan peningkatan ekspansi bisnis. AS juga akan merilis data pesanan pabrik, klaim pengangguran, dan neraca perdagangan.
Baca Juga:
Fortune perluas kepemimpinan di Asia dengan Direktur Editorial dan Kepala Brand Studio baru
5. Bank Sentral
ECB akan mempublikasikan notulen dari pertemuan Maret seminggu sebelum pertemuan pada 14 April mendatang. ECB mengejutkan pasar bulan lalu ketika mengumumkan akan mempercepat rencana penarikan stimulus.
Data menunjukkan inflasi zona euro mencapai rekor tertinggi baru 7,5% pada bulan Maret, menambah tekanan pada ECB untuk bertindak guna mengurangi beban inflasi.
Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia) akan mempertahankan suku bunganya pada pertemuan penetapan kebijakan terbaru pada hari Selasa.
Bank of Canada akan menerbitkan survai prospek bisnis pada Senin dan pembacaan optimis dapat memperkuat ekspektasi untuk kenaikan suku bunga 50 basis pada pertemuan berikutnya pada 13 April 2022. (LS)










