Fed Pertahankan Kebijakan Moneter Ketat karena Ekonomi Tumbuh

- Pewarta

Kamis, 27 September 2018 - 06:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mediaemiten.com, Washington – Federal Reserve AS menaikkan suku bunga lagi dan mempertahankan kebijakan moneter ketat, karena memperkirakan bahwa ekonomi AS akan menikmati pertumbuhan setidaknya dalam tiga tahun lagi.

Dalam sebuah pernyataan yang menandai berakhirnya era kebijakan moneter “akomodatif”, para pembuat kebijakan The Fed menaikkan suku bunga acuan pinjaman jangka pendek sebesar seperempat persentase poin ke kisaran 2,00 persen hingga 2,25 persen.

Bank sentral AS masih memperkirakan kenaikan suku bunga lainnya pada Desember. Tiga kenaikan lagi pada tahun depan, dan satu kenaikan pada 2020.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Itu akan menempatkan suku bunga pinjaman “overnight” sebesar 3,4 persen, kira-kira setengah persentase poin di atas perkiraan suku bunga “netral” The Fed, di mana tingkat suku bunga tidak menstimulasi atau membatasi ekonomi.

Sikap kebijakan ketat itu diproyeksikan akan tetap berjalan sampai 2021, kerangka waktu proyeksi ekonomi terbaru The Fed.

“Hal yang orang-orang perhatikan, yang mereka teruskan dan lakukan, adalah menghapus kata ‘akomodatif’ sehubungan dengan kebijakan moneter mereka,” kata Michael Arone, kepala strategi investasi di State Street Global Advisors.

“Ini tampaknya berpotensi mengindikasikan bahwa mereka percaya kebijakan moneter menjadi kurang akomodatif dan semakin mengarah ke suku bunga netral.” Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan penghapusan kata-kata, yang telah menjadi pokok dari panduan bank sentral untuk pasar keuangan dan rumah tangga selama beberapa dekade terakhir, tidak menandakan perubahan prospek kebijakan.

“Sebaliknya, itu adalah tanda bahwa kebijakan sedang berjalan sesuai dengan harapan kami,” kata Powell, yang mengambil alih sebagai pemimpin The Fed awal tahun ini, dalam konferensi pers.

Kurva imbal hasil surat utang pemerintah AS merosot dan dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang. Saham-saham AS awalnya memperpanjang kenaikan tetapi kemudian jatuh di akhir sesi perdagangan, dengan saham sektor perbankan dan keuangan terpukul keras.

The Fed melihat pertumbuhan ekonomi lebih cepat dari perkiraan 3,1 persen tahun ini dan terus meningkat moderat untuk setidaknya tiga tahun lagi, di tengah pengangguran yang rendah dan inflasi yang stabil di dekat target 2,0 persen.

“Pasar tenaga kerja terus menguat, aktivitas ekonomi telah meningkat pada tingkat yang kuat,” kata dia.

The Fed tidak memasukkan bahasa pengganti untuk kata-kata ‘akomodatif’ yang dihapus dalam pernyataannya. Kata-kata itu telah menjadi kurang akurat sejak bank sentral mulai meningkatkan suku bunga pada akhir 2015 dari suku bunga hampir nol. Ini berarti The Fed sekarang mempertimbangkan suku bunga mendekati netral.

Proyeksi baru Powell menolak untuk mengatakan apakah pembuat kebijakan The Fed telah membahas kritik Presiden Donald Trump terhadap bank sentral. Bulan lalu, Trump menyatakan ketidaksenangannya tentang kenaikan suku bunga dan mengatakan The Fed harus berbuat lebih banyak untuk meningkatkan ekonomi.

Powell mengatakan bank sentral akan tetap independen.

“Kami tidak mempertimbangkan faktor politik atau hal-hal seperti itu,” kata ketua The Fed.

Kenaikan suku bunga pada Rabu (26/9/2018) adalah yang ketiga kalinya untuk tahun ini dan yang ketujuh dalam delapan kuartal terakhir. Menjelang pernyataan Rabu (26/9/2018), para pedagang memberi peluang untuk kenaikan suku bunga 95 persen, menurut CME Group.

Proyeksi-proyeksi terbaru The Fed menunjukkan ekonomi berlanjut pada kecepatan stabil hingga 2019, dengan pertumbuhan produk domestik bruto diperkirakan di 2,5 persen tahun depan sebelum melambat menjadi 2,0 persen pada 2020 dan menjadi 1,8 persen pada 2021, sebagai dampak pemotongan pajak baru-baru ini dan memudarnya pengeluaran pemerintah.

Inflasi diperkirakan melayang di dekat 2,00 persen selama tiga tahun ke depan, sementara tingkat pengangguran diperkirakan turun menjadi 3,5 persen tahun depan dan tetap sampai 2020 sebelum naik sedikit pada 2021. Sementara tingkat pengangguran saat ini 3,9 persen.

Dengan risiko-risiko digambarkan sebagai kurang lebih seimbang, pernyataan itu mempertahan The Fed di jalur yang stabil untuk tahun depan.

Risiko-risiko terhadap laju pertumbuhan ekonomi saat ini, seperti ancaman putaran kenaikan tarif global yang merusak, sebagian besar dikesampingkan.

Tidak ada perbedaan pendapat dalam pernyataan kebijakan The Fed. (pep)

Berita Terkait

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama
FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025
Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?
Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan
Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek
Kasus Jiwasraya: Tanah Benny Tjokro Bogor Dilelang, Negara Kumpulkan Rp18 M
ICC Singapura Jadi Arena Gugatan Kontrak Satelit: Indonesia Siapkan Bukti Lengkap Lawan Detenté Operation
TRUE Optimistis Proyek District East Meningkatkan Laba dan Valuasi Aset

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:53 WIB

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama

Kamis, 14 Agustus 2025 - 11:43 WIB

FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025

Jumat, 1 Agustus 2025 - 07:16 WIB

Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?

Senin, 28 Juli 2025 - 09:59 WIB

Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan

Kamis, 17 Juli 2025 - 14:29 WIB

Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek

Berita Terbaru

Pers Rilis

Hainan: Etalase Kebijakan Pintu Terbuka Tiongkok

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:45 WIB