Harga Minyak Naik Lebih dari 1 Persen, Dipicu Optimisme Tarif AS Turun

- Pewarta

Rabu, 6 November 2019 - 04:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: Pompa angguk pengoboran minyak /Dok

Foto ilustrasi: Pompa angguk pengoboran minyak /Dok

Infofinansial.com, New York – Harga minyak naik lebih dari satu persen pada akhir perdagangan Rabu pagi (6/11/2019), di tengah harapan terhadap perjanjian perdagangan Amerika Serikat-China dan optimisme bahwa Washington dapat menurunkan kembali beberapa tarif impor China.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari naik 0,83 dolar AS atau 1,3 persen, menjadi ditutup pada 62,96 dolar per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara itu harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember naik 0,69 dolar AS atau 1,2 persen, menjadi menetap pada 57,23 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

China mendorong Presiden AS Donald Trump untuk menghapus lebih banyak tarif yang diberlakukan pada September sebagai bagian dari kesepakatan fase 1, yang akan meringankan dampak ekonomi dari sengketa perdagangan antara dua konsumen minyak terbesar dunia.

“Sementara perkembangan seperti itu dapat mengakomodasi penandatanganan kesepakatan fase pertama yang akan memungkinkan peningkatan lebih lanjut dalam penerimaan risiko dan karenanya limpahan bullish dari ekuitas masuk ke dalam kompleks minyak, perjanjian jangka panjang utama masih tampak sulit dipahami hingga tahun depan,” kata Presiden Ritterbusch and Associates, Jim Ritterbusch, di Galena, Illinois, dalam sebuah laporan.

Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo mengatakan prospek pasar minyak untuk tahun 2020 mungkin lebih cerah dari perkiraan sebelumnya, tampak mengecilkan setiap kebutuhan untuk pengurangan produksi yang lebih dalam.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya yang dipimpin oleh Rusia akan bertemu pada Desember. Aliansi OPEC+ sejak Januari telah memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari.

Menteri Perminyakan Iran pada Senin (4/11/2019) mengatakan ia memperkirakan pengurangan produksi lebih lanjut akan disepakati pada Desember.

OPEC juga mengatakan akan memasok jumlah minyak yang semakin berkurang dalam lima tahun ke depan karena produksi meningkat dari simpanan serpih AS dan tempat lain.

Produksi minyak mentah dan cairan lainnya OPEC diperkirakan akan menurun menjadi 32,8 juta barel per hari pada tahun 2024, kata kelompok itu dalam Prospek Minyak Dunia 2019.

Sementara itu, pertumbuhan permintaan minyak Asia diperkirakan akan naik dua kali lipat menjadi 815.000 barel per hari pada tahun 2020, kata kepala perusahaan konsultan energi FGE.

Di Amerika Serikat, persediaan minyak mentah naik 4,3 juta barel pekan lalu menjadi 440,5 juta barel, data dari kelompok industri American Petroleum Institute (API) menunjukkan Selasa malam (5/11/2019), hampir tiga kali lipat perkiraan analis untuk peningkatan 1,5 juta barel.

Data resmi pemerintah AS akan dirilis pada Rabu waktu setempat.

Harga minyak juga mendapat dukungan dari pemangkasan suku bunga Federal Reserve AS minggu lalu, pelemahan dolar dan peningkatan pertumbuhan lapangan kerja AS pada Oktober, kata para analis.

“Kami percaya bahwa kekuatan harga minyak akan berumur pendek, mengingat skala surplus yang diharapkan selama 1H20,” kata Analis ING Warren Patterson, merujuk pada paruh pertama tahun 2020.

“Risiko pandangan ini adalah jika OPEC + mengejutkan pasar pada Desember dengan mengumumkan pemotongan yang lebih dalam dari yang diperkirakan untuk tahun 2020.” (pep)

Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru