INCO Akan Kuasai 30% Proyek Pengolahan Nikel Pomala

- Pewarta

Kamis, 28 April 2022 - 21:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: PT Vale Indonesia Tbk  (INCO)/vale.com

Foto ilustrasi: PT Vale Indonesia Tbk (INCO)/vale.com

MEDIA EMITEN – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) gandeng Zhejiang Huayou Cobalt Company Limited (Huayou) untuk mengembangkan  fasilitas pengolahan High-Pressure Acid Leaching (HPAL) atau teknologi pengolahan nikel untuk battery grade secara hidrometalurgi di Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara. Hal itu tertuang  Perjanjian Kerangka Kerjasama untuk mengembangkan  dalam Proyek HPAL Pomalaa.

Direktur Utama INCO, Febriany Eddy mengatakan, Huayou datang dengan agenda rendah karbon, bukan untuk menggunakan pembangkit listrik tenaga batu bara. “Huayou telah membuktikan rekam jejaknya dalam konstruksi dan operasi HPAL di Indonesia,” kata dia Kamis 28 April 2022.

Menurut dia, Huayou akan membangun dan melaksanakan Proyek HPAL Pomalaa, dan INCO akan memiliki hak untuk mengakuisisi hingga 30% saham Proyek HPAL Pomalaa tersebut.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Proyek HPAL Pomalaa, kata Febriany, akan mengadopsi dan menerapkan proses, teknologi dan konfigurasi HPAL Huayou yang telah teruji untuk memproses bijih limonit dan bijih saprolit kadar rendah dari tambang PT Vale di Pomalaa, untuk menghasilkan Produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dengan potensi kapasitas produksi hingga mencapai 120.000 metrik ton nikel per tahun.

Febriany menegaskan, perseroan dan Huayou akan menekan jejak karbon proyek dan  sepakat untuk tidak menggunakan pembangkit listrik tenaga batubara captive sebagai sumber listrik dalam bentuk apapun untuk pengoperasian Proyek HPAL Pomala.

Berita Terkait

Resmi Dibuka, Astra Auto Fest 2025 Semarak Beragam Promo dari Grup Astra
Pasar Modal Indonesia Waspada, CSA Index September 2025 Terkoreksi
Strategi BUMI Kuasai Wolfram, Tambang Emas Jumbo di Queensland Australia
Analisis: Keterlambatan Laporan Keuangan Picu Asimetri Informasi di Pasar
Strategi SMMA Konversi Utang Jadi Saham, Langkah Cerdas Atasi Beban Finansial
CSA Index RI Agustus Tertinggi Sejak Awal Tahun
Strategi Baru Remala Abadi: Transaksi Saham Komisaris Tingkatkan Kontrol Bisnis
Pasca Keluar dari LQ45, SIDO Pindah Fokus dari Domestik ke Internasional

Berita Terkait

Jumat, 5 Desember 2025 - 18:00 WIB

Resmi Dibuka, Astra Auto Fest 2025 Semarak Beragam Promo dari Grup Astra

Jumat, 12 September 2025 - 22:03 WIB

Pasar Modal Indonesia Waspada, CSA Index September 2025 Terkoreksi

Rabu, 20 Agustus 2025 - 15:17 WIB

Strategi BUMI Kuasai Wolfram, Tambang Emas Jumbo di Queensland Australia

Rabu, 20 Agustus 2025 - 10:11 WIB

Analisis: Keterlambatan Laporan Keuangan Picu Asimetri Informasi di Pasar

Senin, 18 Agustus 2025 - 11:46 WIB

Strategi SMMA Konversi Utang Jadi Saham, Langkah Cerdas Atasi Beban Finansial

Berita Terbaru

Pers Rilis

Hainan: Etalase Kebijakan Pintu Terbuka Tiongkok

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:45 WIB