MEDIA EMITEN –Investor pasar modal diminta untuk tidak terlalu agresif dalam berinvestasi pada 2023, di tengah ketidakpastian ekonomi yang diperkirakan lebih menantang. Investor juga perlu meningkatkan perhatian terhadap kondisi makro ekonomi global.
Chief Economist Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat menjelaskan, jika suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed kembali naik tahun depan, industri perbankan diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit.
Budi Hikmat menjadi pembicara dalam dalam Invesment Talk bertajuk “Past Forward 2022-2021” yang diselenggarakan D’ORIGIN Financial &Business Advisory dan IGICO Advisory pada Kamis 29 Desember 2022.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut dia, tanpa penyaluran kredit yang ideal, ekonomi diperkirakan sulit bergerak lebih cepat, sehingga kemungkinan ekonomi melambat akan jauh lebih besar.
Selain itu, kata Budi, kondisi ekonomi diperparah dengan konflik geopolitik Ukraina dan Rusia. Untuk itu, tahun depan menurutnya investor harus terbiasa dengan kondisi ekonomi yang berhadapan dengan inflasi.
“Yang menarik, prospek ekonomi kemungkinan stagflasi. Tetapi prospek investasi belum tentu. Karena pasar modal selalu lebih dulu bergerak dari sektor riil. Investment strategy 2023 adalah living with inflation. Saran saya sebetulnya kalau kita bicara investasi jangan persempit hanya di saham, silakan pertimbangkan properti,” ujar Budi dalam keterangannya, Jumat 30 Desember 2022.
Budi menambahkan, ketika akan menghadapi volatilitas tahun depan, ada baiknya investor melangkapi aset kelasnya. Dia menyebut yang paling menarik sepanjang tahun ini adalah dana asing yang keluar luar biasa besar pada instrumen investasi Surat Berharga Negara (SBN). Namun, pada akhir tahun dana asing pada SBN mulai marak masuk kembali.
Baca Juga:
EngineAI Resmikan Pabrik Cerdas di Shenzhen, Robot Humanoid T800 Mulai Dikirim secara Massal
Gravity Game Unite (GGU) Tutup OBT MMORPG PC “Ragnarok Zero: Global” dengan Sukses Besar
Meski dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi, Budi Hikmat masih optimistis melihat kondisi perekonomian tahun depan. Sebab, pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dicabut pemerintah secara menyeluruh dan bisa lebih memutar roda perekonomian.
Mengutip data Bloomberg di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan diproyeksi sekitar 4,9% dengan tingkat inflasi 4,3%, Budi Hikmat memproyeksikan IHSG pada tahun depan melalui tiga skenario.
Untuk base case ada pada level 7.550, untuk posisi bull menembus level 8.400 dan posisi bear pada level 6.750.
Baca Juga:







