MEDIA EMITEN – Anggota Komisi VII DPR, Mulyanto menyebutkan, target 4 juta sambungan jaringan gas rumah tangga (RS) pada 2024 hanya mimpi dan pesimistis dapat terealisasi.
Menurutnya, hingga Mei 2021, pemerintah baru dapat membangun 537.963 SR sambungan atau baru 16 persennya, padahal waktu yang tersisa tinggal 3 tahun lagi.
Baca Juga :Penyelesaian Transmisi Industri dan Jaringan Gas Diminta Lebih Cepat
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Belakangan justru keseriusan pemerintah terlihat kendor,” kata politisi dari Fraksi PKS dikutip mediaemiten.com dari dpr.go.id.
Hal tersebut terlihat dari besaran anggaran pembangunan jargas di tahun 2021-2022.
Hal ini berdasarkan hasil paparan Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), saat rapat dengar pendapat Komisi VII DPR dengan Eselon I Kementerian ESDM yang membahas anggaran pemerintah tahun 2022, pada 3 Juni 2021 lalu.
Pada tahun 2021, pemerintah menganggarkan Rp 1,2 triliun untuk pembangunan 120.776 SR sambungan jargas.
Baca Juga:
Bangun Masa Depan Nol Karbon | LiuGong Gelar Global Customer Day Keenam di Liuzhou
Creality Rayakan 12 Tahun Inovasi dengan KliTek™ dan Ekspansi Ekosistem Berbasis AI
Sedangkan untuk tahun anggaran 2022 nilainya anjlok menjadi hanya Rp 100 miliar dengan target 10.000 SR jargas, tersisa kurang dari 8% dibanding anggaran tahun sebelumnya.
“Ini kan aneh, saat pemulihan ekonomi ingin kita dorong di tahun 2022, bersama pandemi yang perlahan mulai melandai, anggaran jargas malah melorot. Apa ini kerjanya mafia migas yang lebih senang impor elpiji?,”ucapnya.
Dengan kinerja seperti itu, maka mustahil target 4 juta SR jargas di tahun 2024 akan tercapai.
Menurut Mulyanto, PKS mendesak pemerintah serius atasi pembangunan jargas ini.
Baca Juga:
EngineAI Resmikan Pabrik Cerdas di Shenzhen, Robot Humanoid T800 Mulai Dikirim secara Massal
Gravity Game Unite (GGU) Tutup OBT MMORPG PC “Ragnarok Zero: Global” dengan Sukses Besar
Untuk diketahui program jargas ini dicanangkan secara nasional dalam rangka substitusi impor LPG dengan gas alam domestik.
Upaya ini perlu dilakukan dalam rangka menekan defisit transaksi berjalan, khususnya sektor migas dan membangun ketahanan energi nasional secara lebih masif.
Mulyanto menambahkan, secara umum program substitusi LPG dengan gas alam ini dapat menghemat devisa.
Hitungannya, harga gas alam lebih murah daripada LPG.
Selain itu cadangan gas alam, sebagai sumber energi yang bersih ini, masih berlimpah, sekitar 1,53% cadangan gas bumi dunia.
Dengan demikian secara nasional, masyarakat dapat berhemat sebesar Rp 0,3 triliun per tahun.
Sementara pemerintah dapat menghemat subsidi LPG sebesar Rp 3,3 triliun per tahun, jumlah yang lumayan besar.
Politisi dari daerah pemilihan Banten III ini menilai, sejauh ini pemerintah kurang serius mengembangkan jaringan gas di wilayah-wilayah produktif.
Mulyanto mencontohkan hingga kini di wilayah Kota Tangerang dan Tangerang Selatan belum terjangkau jaringan gas, padahal pilot project jargas di rumah susun Tangerang sudah lama berjalan.
Baca Juga: Kementerian ESDM Beberkan Perkembangan Pembangunan Empat Smelter di Tahun 2021
Beberapa wilayah di Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi sudah masuk jaringan gas. Tapi Tangerang sampai sekarang masih belum.
“Ini menunjukan Pemerintah tidak serius menjadikan jargas sebagai sumber energi alternatif bagi masyarakat,” tutur anggota DPR dari Fraksi PKS. (Tim)










