Yield Obligasi Kembali “Meradang”, US Treasury di Atas 4%

- Pewarta

Rabu, 19 Oktober 2022 - 19:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: US Treasury Bond/IST

Foto ilustrasi: US Treasury Bond/IST

MEDIA EMITEN – Imbal hasil (yield) obligasi AS kembali meradang karena kekhawatiran resesi menyebar di antara investor. US Treasury tenor 10 tahun naik di atas 4% menjadi 4,1% pada Rabu sore 19 Oktober 2022.Treasury 2-tahun yang sensitif terhadap kebijakan naik sekitar 6 basis poin menjadi 4,501%.

Sementara itu, yield surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun saat ini tercatat sekitar 7,42%. Bila dibandingkan dengan negara-negara tersebut, yield obligasi Indonesia memang nampak lebih tinggi.

Yield obligasi negara Singapura naik menjadi 3,5%, Malaysia pun naik menjadi 4,4%, serta yield obligasi Thailand naik menjadi 3,04%.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kekhawatiran tentang resesi semakin menghantui investor karena Federal Reserve terus mengikuti jalur hawkish yang dilapisi dengan kenaikan suku bunga.

Ini telah mulai menyaring proyeksi pendapatan, dengan beberapa perusahaan dan analis merevisi prospek mereka ke bawah untuk kuartal mendatang.

Bank Sentral AS (Federal Reserve) diperkirakan menaikkan suku bunga 75 basis poin untuk keempat berturut-turut pada pertemuan mereka di awal November. Sebelumnya, pejabat Fed telah mengingatkan bahwa tren kenaikan suku bunga dapat berlanjut.

Berbicara di sebuah acara pada hari Selasa, Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari mengatakan dia tidak melihat alasan untuk tidak mendorong suku bunga acuan bank sentral di atas 4,75% untuk mengatasi inflasi. Level seperti itu terakhir terlihat pada paruh pertama tahun 2006.

Pembicara Fed lebih lanjut akan membuat pernyataan pada Rabu waktu AS.

Pasar menunggu data perumahan dan izin bangunan yang akan segera dirilis untuk mendapat gambaran lebih lanjut kepada para pedagang tentang keadaan ekonomi AS dan dampak perkembangan ekonomi terhadap konsumen.

Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru