MEDIA EMITEN – Imbal hasil (yield) obligasi AS kembali meradang karena kekhawatiran resesi menyebar di antara investor. US Treasury tenor 10 tahun naik di atas 4% menjadi 4,1% pada Rabu sore 19 Oktober 2022.Treasury 2-tahun yang sensitif terhadap kebijakan naik sekitar 6 basis poin menjadi 4,501%.
Sementara itu, yield surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun saat ini tercatat sekitar 7,42%. Bila dibandingkan dengan negara-negara tersebut, yield obligasi Indonesia memang nampak lebih tinggi.
Yield obligasi negara Singapura naik menjadi 3,5%, Malaysia pun naik menjadi 4,4%, serta yield obligasi Thailand naik menjadi 3,04%.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kekhawatiran tentang resesi semakin menghantui investor karena Federal Reserve terus mengikuti jalur hawkish yang dilapisi dengan kenaikan suku bunga.
Ini telah mulai menyaring proyeksi pendapatan, dengan beberapa perusahaan dan analis merevisi prospek mereka ke bawah untuk kuartal mendatang.
Bank Sentral AS (Federal Reserve) diperkirakan menaikkan suku bunga 75 basis poin untuk keempat berturut-turut pada pertemuan mereka di awal November. Sebelumnya, pejabat Fed telah mengingatkan bahwa tren kenaikan suku bunga dapat berlanjut.
Berbicara di sebuah acara pada hari Selasa, Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari mengatakan dia tidak melihat alasan untuk tidak mendorong suku bunga acuan bank sentral di atas 4,75% untuk mengatasi inflasi. Level seperti itu terakhir terlihat pada paruh pertama tahun 2006.
Baca Juga:
Krisis Pinjol Indonesia: Tembus Rp100 Triliun, Ini Cara FLIN Bantu Keluar dari Siklus Utang
Pembicara Fed lebih lanjut akan membuat pernyataan pada Rabu waktu AS.
Pasar menunggu data perumahan dan izin bangunan yang akan segera dirilis untuk mendapat gambaran lebih lanjut kepada para pedagang tentang keadaan ekonomi AS dan dampak perkembangan ekonomi terhadap konsumen.







