Wall Street Merosot, Negosiasi Plafon Utang Masih Buntu

- Pewarta

Kamis, 25 Mei 2023 - 07:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: Suasana bursa saham di Wall Street, AS/DOk

Foto ilustrasi: Suasana bursa saham di Wall Street, AS/DOk

MEDIA EMITEN Tiga indeks utama saham di Wall Street ditutup merosot pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), karena kebuntuan tentang negosiasi peningkatan plafon utang AS meningkatkan kekhawatiran akan bencana gagal bayar.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 255,59 poin atau 0,77% menjadi 32.799,92 poin. Indeks S&P 500 merosot 30,34 poin atau 0,73% menjadi 4.115,24 poin. Indeks Komposit Nasdaq turun 76,08 poin atau 0,61% menjadi ditutup pada 12.484,16 poin.

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor real estat dan keuangan memimpin penurunan dengan masing-masing kehilangan 2,21% dan 1,31%. Sementara itu, sektor energi melawan tren dengan naik 0,52%.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kurangnya kemajuan dalam meningkatkan batas utang pemerintah AS sebesar US$ 31,4 triliun menjelang tenggat waktu 1 Juni, dengan beberapa putaran pembicaraan yang tidak meyakinkan, telah membuat investor gelisah karena risiko bencana gagal bayar semakin besar.

Ketua DPR Kevin McCarthy mengatakan pada Rabu (24/5/2023) bahwa negosiator tetap berselisih tentang batas pengeluaran, dan menyalahkan rekan-rekan Demokratnya atas kebuntuan saat ini.

McCarthy juga mengatakan bahwa dia yakin kedua belah pihak di meja perundingan dapat membuat kemajuan dan mendapatkan kesepakatan untuk mencegah gagal bayar.

Investor khawatir, dan pasar saham turun sementara aset-aset safe-haven lebih tinggi, kata Kenny Fisher, analis pasar senior di OANDA, pemasok layanan perdagangan daring multi-aset.

Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan Rabu (24/5/2023) bahwa hampir pasti Departemen Keuangan akan kehabisan sumber daya pada awal Juni. Dia juga memperingatkan bahwa mungkin ada kesulitan finansial bahkan dengan perjanjian utang dan “kita baru melihat permulaannya.”

Investor juga mencermati risalah pertemuan Mei Federal Reserve yang dirilis pada Rabu (24/5/2023). Risalah menunjukkan para pembuat kebijakan terbelah atas apakah bank sentral harus menaikkan suku bunga lagi pada Juni, dengan beberapa dari mereka melihat perlunya kenaikan lagi sementara yang lain mengharapkan kenaikan lagi mungkin tidak diperlukan.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memiliki kemungkinan lebih dari 30% untuk menaikkan suku bunga Fed sebesar 25 basis poin lagi pada Juni, menurut data dari CME FedWatch Tool.

Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru

Pers Rilis

ABC Impact Luncurkan “2025 Impact Review”

Rabu, 29 Apr 2026 - 10:22 WIB