Wall Street Melemah, Investor Tunggu Voting Plafon Utang AS

- Pewarta

Kamis, 1 Juni 2023 - 09:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: Bursa saham New York Stock Exchange di Wall Street, AS/Dok.

Foto ilustrasi: Bursa saham New York Stock Exchange di Wall Street, AS/Dok.

MEDIA EMITEN Saham-saham di Wall Street lebih ditutup melemah pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), karena investor menunggu pemungutan suara DPR (voting) mengenai kesepakatan plafon utang untuk mencegah potensi gagal bayar.

Pasar juga menuggu data pasar tenaga kerja yang kuat membuat investor khawatir Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lagi pada Juni.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 134,51 poin atau 0,41% menjadi 32.908,27 poin. Indeks S&P 500 turun 25,69 poin atau 0,61% menjadi 4.179,83 poin. Indeks Komposit Nasdaq merosot 82,14 poin atau 0,63% menjadi ditutup pada 12.935,28 poin.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor energi dan industri memimpin penurunan, masing-masing merosot 1,88% dan 1,4%. Sementara itu, sektor utilitas dan kesehatan memimpin penguatan dengan masing-masing naik 0,96% dan 0,85%.

Indeks saham memangkas kerugian pada Rabu (31/5/2023) sore setelah beberapa gubernur bank sentral mengisyaratkan bahwa mungkin tepat untuk “melewati” kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve mendatang pada Juni.

Gubernur Federal Reserve Philip Jefferson mengatakan bahwa bahkan jika bank sentral memilih untuk melewatkan kenaikan pada Juni, itu tidak berarti Fed selesai menaikkan suku bunga.

Sementara itu, Survei Pembukaan Pekerjaan dan Perputaran Tenaga Kerja atau laporan JOLTS, dari Departemen Tenaga Kerja mengungkapkan 10,1 juta lowongan pekerjaan pada hari kerja terakhir April, meningkat dari revisi naik menjadi 9,8 juta pada Maret, menunjukkan pasar tenaga kerja yang ketat yang dapat memaksa Fed menaikkan suku bunga lagi pada Juni.

Data JOLTS mengingatkan Wall Street bahwa ekonomi memiliki pasar tenaga kerja yang tidak ingin rusak, kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA, pemasok layanan perdagangan daring multi-aset.

Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru

Pers Rilis

ABC Impact Luncurkan “2025 Impact Review”

Rabu, 29 Apr 2026 - 10:22 WIB