Wall Street Koreksi, Investor Tunggu Sinyal Fed

- Pewarta

Selasa, 6 Juni 2023 - 07:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilistrasi: Bursa saham Wall Street, AS/Dok

Foto ilistrasi: Bursa saham Wall Street, AS/Dok

MEDIA EMITEN Tiga indeks saham di Wall Street terkoreksi pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi WIB). Investor menunggu sinyal dari Federal Reserve untuk kebijakan suku bunga acuannya.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun199,90 poin atau 0,59% menjadi 33.562,86 poin. Indeks S&P 500 turun 8,58 poin atau 0,2% menjadi 4.273,79 poin. Indeks Komposit Nasdaq terkoreksi 11,34 poin atau 0,09% menjadi 13.229,43 poin.

Tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor industri dan energi memimpin penurunan masing-masing kehilangan 0,71% dan 0,58%. Sementara itu, jasa-jasa komunikasi dan utilitas memimpin penguatan dengan masing-masing naik 0,58% dan 0,45%.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saham AS telah reli di sesi baru-baru ini karena hilangnya kekhawatiran tentang gagal bayar utang AS. Presiden Joe Biden menandatangani satu undang-undang bipartisan menjadi undang-undang pada Sabtu (3/6/2023) yang menangguhkan plafon utang hingga 1 Januari 2025. 

Investor sekarang mempertimbangkan implikasi dari undang-undang plafon utang terhadap likuiditas, bagaimanapun, dengan kekhawatiran bahwa kebutuhan Departemen Keuangan untuk mengisi kembali uang tunai dapat menguras likuiditas dari sistem keuangan.

Ledakan penerbitan surat utang pemerintah (T-Bill) diperkirakan dapat berdampak pada likuiditas di pasar lain, tergantung pada siapa yang membelinya. Dana pasar uang biasanya akan menjadi pembeli utama tetapi kemungkinan akan membutuhkan imbal hasil yang lebih tinggi, yang akan menambah tantangan tingginya biaya pendanaan yang dihadapi sistem perbankan regional, kata Vishwanath Tirupattur, direktur global penelitian pendapatan tetap di Morgan Stanley.

Investor mecermati kembali data ekonomi terbaru, yang dapat berdampak pada kebijakan moneter Federal Reserve ketika pertemuan dua hari berakhir pada 14 Juni. The Fed secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada Juni, tetapi pergerakannya untuk sisa tahun ini tetap tidak jelas.

Institute for Supply Management (ISM) melaporkan pada Senin (6/6/2023) bahwa indeks pembelian manajer (PMI) jasa-jasa turun menjadi 50,3 pada Mei dari 51,9 pada April, lebih rendah dari ekspektasi pasar 51,8. 

Sementara itu, Indeks Aktivitas Bisnis PMI Jasa-jasa AS dari S&P Global akhir yang disesuaikan secara musiman tercatat 54,9 pada Mei, naik dari 53,6 pada April dan secara umum sejalan dengan perkiraan “flash” yang dirilis sebelumnya sebesar 55,1, menurut S&P Global.

Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru