MEDIA EMITEN – Tiga indeks utama saham di Bursa Wall Street ditutup beragam pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
IndeksS&P 500 dan Nasdaq jatuh untuk sesi kedua berturut-turut setelah data manufaktur mengindikasikan inflasi kemungkinan akan tetap tinggi.
S&P 500 turun 0,47% menjadi 3.951,39, Nasdaq Composite kehilangan 0,66% menjadi 11.379,48 dan Dow Jones Industrial Average blue-chip mengakhiri perdagangan naik 5,14 poin mencapai 32.661,84.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pergerakan bursa AS terjadi karena imbal hasil obligasi memperpanjang kenaikan dari Februari. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mencapai 4%, untuk pertama kalinya sejak November. Sementara imbal hasil treasury tenor 1 tahun naik di atas 5%.
Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari pada Rabu mengatakan “terbuka kemungkinan” kenaikan suku bunga yang lebih besar pada pertemuan kebijakan bulan ini. Apakah itu 25 atau 50 basis poin.
“Kinerja dua bulan pertama bursa AS termasuk Nasdaq tahun ini terutama dipengaruhi perubahan ekspektasi kebijakan moneter pada tahun 2023,” kata Direktur Investasi di Manajemen Kekayaan Bank AS, William Northey dikutip CNBC International.
Sentimen pasar saham awalnya mendapat dorongan setelah rilis data Tiongkok lebih kuat dari perkiraan. Biro Statistik Nasional negara itu mengatakan purchaisng manager index (PMI) manufaktur naik menjadi 52,6 pada Februari, tertinggi sejak April 2012.
Baca Juga:
ABC Impact Luncurkan “2025 Impact Review”
Hisense Berkolaborasi dengan “Phantom Blade Zero”, Hadirkan Pengalaman Gim RGB Generasi Baru
Hikvision Umumkan Kinerja Keuangan Periode 2025 dan Triwulan I-2026
Pergerakan itu terjadi setelah Wall Street menutup Februari kelabu pada Selasa. Penurunan Februari menyeret Dow Jones ke wilayah negatif untuk tahun 2023. Sementara dua indeks lainnya masih mempertahankan kenaikannya.






