Wall Street Anjlok, Negosiasi Plafon Utang Buntu

- Pewarta

Rabu, 24 Mei 2023 - 07:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: Suasana bursa saham Wall Street, AS/Dok

Foto ilustrasi: Suasana bursa saham Wall Street, AS/Dok

MEDIA EMITEN Tiga indeks utama saham di Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Investor khawatir di tengah negosiasi plafon utang yang masih buntu menjelang tenggat waktu 1 Juni untuk mencegah bencana gagal bayar AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 231,07 poin atau 0,69% menjadi 33.055,51 poin. Indeks S&P 500 turun 47,05 poin atau 1,12% menjadi 4.145,58 poin. Indeks Komposit Nasdaq anjlok 160,53 poin atau 1,26% menjadi 12.560,25 poin.

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor material dan teknologi memimpin penurunan yang masing-masing kehilangan 1,54% dan 1,5%. Sementara itu, sektor energi melawan tren dengan naik 1,04%.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua DPR AS Kevin McCarthy mengatakan kepada sesama anggota Partai Republik bahwa negosiasi plafon utang masih jauh, dengan pemotongan belanja pemerintah tetap menjadi hambatan utama antara kedua belah pihak, menurut Bloomberg.

Investor telah mengamati dengan cermat kebuntuan batas utang minggu ini. Presiden AS Joe Biden dan McCarthy gagal mencapai kesepakatan untuk menaikkan batas utang yang digambarkan McCarthy sebagai “produktif”.

Sementara Menteri Keuangan Janet Yellen memperingatkan lagi bahwa Amerika Serikat dapat gagal memenuhi kewajibannya paling cepat 1 Juni.

Sekali lagi, ini adalah hari yang relatif ramai sejauh menjadi berita utama, namun masih ada perasaan ragu di pasar, kata Craig Erlam, analis pasar senior di OANDA, pemasok layanan perdagangan daring multi-aset.

“Kami masih menunggu untuk melihat resolusi pagu utang, yang pasti akan datang, setelah pembicaraan yang lebih menjanjikan antara Presiden Biden dan Ketua DPR McCarthy,” kata Erlam.

Sementara itu, investor memperhatikan beberapa indikasi yang menunjukkan bahwa ekonomi AS tetap tangguh, meskipun kekhawatiran akan plafon utang meningkat.

S&P Global melaporkan pada Selasa bahwa indeks manajer pembelian komposit flash AS naik menjadi 54,5 pada Mei, naik dari 53,4 pada April. Itu menandai tertinggi 13 bulan untuk indeks.

Secara khusus, indeks aktivitas bisnis jasa-jasa AS meningkat menjadi 55,1 pada Mei dari 53,6 pada April, juga mencapai level tertinggi dalam 13 bulan. Namun, indeks produksi manufaktur AS melemah menjadi 51,0 pada Mei dari 52,4 pada April, terendah dalam dua bulan, menurut S&P Global.

 

Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru

Pers Rilis

ABC Impact Luncurkan “2025 Impact Review”

Rabu, 29 Apr 2026 - 10:22 WIB