Pasar Saham Berjatuhan, Yield Obligasi AS di Atas 3%

- Pewarta

Jumat, 6 Mei 2022 - 09:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: bursa saham di China/Dok

Foto ilustrasi: bursa saham di China/Dok

MEDIA EMITEN – Pasar saham berjatuhan menyusul kekhawatiran lonjakan inflasi yang memicu kebijakan moneter ketat lebih agresif. Aksi jual melanda Wall Street setelah yield obligasi AS melejit di atas 3% dengan Dow ambles lebih dari 1000 poin.

Pasar saham di Asia Pasifik pada Jumat pagi, 6 Mei 2022, mengikuti aksi jual di Wall Street. Mayoritas indeks saham dibuka merah membara, bahkan Hang Seng Hong Kong jatuh lebih dari 2%.

Indeks Hang Seng memimpin kerugian secara regional, sementara di Cina daratan Shanghai Composite turun 1,41%, sedangkan Shenzhen anjlok 1,728%.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di Jepang, Nikkei 225 turun 0,13%. Saham Jepang kembali diperdagangkan pada Jumat setelah liburan besar minggu ini.

Kospi Korea Selatan turun 1,48%, dan S&P/ ASX Australia ambles 2,49%, sedangkan indeks Straits Times Singapura turun 1,35%.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 2,22% pada Jumat pagi.

Wall Street

Semalam di Bursa AS, Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 1.063,09 poin atau 3,12% menjadi 32.997,97 poin. Indeks S&P 500 merosot 153,30 poin atau 3,56% menjadi 4.146,87 poin. Nasdaq Composite ambruk 647,17 poin atau 4,99% menjadi 12.317,69 poin.

Indeks 30-saham unggulan dan Nasdaq membukukan penurunan harian terburuk sejak 2020, menurut Dow Jones Market Data.

Semua 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor konsumen non-primer dan teknologi masing-masing terjungkal 5,81% dan 4,93%, memimpin kerugian.

Ketiga indeks utama Wall Street menghapus kenaikan yang dibuat selama reli pada hari sebelumnya dengan Nasdaq membukukan persentase penurunan satu hari terbesar sejak Juni 2020 dan penutupan terendah sejak November 2020.

Kemunduran terjadi satu hari setelah Federal Reserve AS menyampaikan kenaikan suku bunga yang diantisipasi secara luas.

The Fed pada Rabu (4/5/2022) mengumumkan kenaikan suku bunga acuan 0,5%, kenaikan suku bunga paling tajam sejak tahun 2000, sebagai bagian dari upaya untuk memerangi inflasi.

Bank sentral AS juga memutuskan untuk mulai mengurangi kepemilikannya atas sekuritas utang pemerintah dan utang agensi dan sekuritas agensi yang didukung hipotek pada 1 Juni.

Di sisi ekonomi, klaim pengangguran awal AS, cara kasar untuk mengukur PHK, meningkat 19.000 menjadi 200.000 dalam pekan yang berakhir 30 April, Departemen Tenaga Kerja melaporkan pada Kamis (5/5/2022). Ekonom yang disurvei oleh The Wall Street Journal memperkirakan klaim baru hanya akan naik menjadi 182.000.

Saham megacaps teknologi merosot. Induk perusahaan Google Alphabet Inc, Apple Inc, Microsoft Corp, Meta Platforms, Tesla Inc dan Amazon.com semuanya merosot antara 4,3% hingga 8,3%.

Namun, bukan hanya saham dengan pertumbuhan tinggi, yang mengalami kesulitan pada 2022 karena prospek kenaikan suku bunga membuat investor mempertanyakan potensi pendapatan mereka di masa depan. Aksi jual melanda semua area pasar.

“Investor tidak melihat fundamental (seperti laba) saat ini, dan ini lebih merupakan masalah sentimen,” kata Kepala Investasi Verdence Capital Advisors, Megan Horneman.

Kekhawatiran tentang langkah kebijakan The Fed, laba beragam dari beberapa perusahaan pertumbuhan besar, konflik di Ukraina dan penguncian terkait pandemi di China telah memukul Wall Street baru-baru ini, membayangi musim pelaporan triwulanan yang lebih baik dari perkiraan.

Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru