MEDIA EMITEN – Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dito Ganinduto optimistis perekonomian nasional di triwulan I-2021 terus membaik.
Berbagai intervensi ekonomi telah dilakukan melalui perbaikan berbagai kebijakan dalam mendukung stabilitas ekonomi dan keuangan.
Baca Juga: Dengan Dukungan TNI dan Polri, Jokowi Targetkan 1 Juta Vaksinasi di Juli 2021
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Leading indicator menunjukkan perbaikan di bulan Maret 2021 sesuai ekspektasi sebagai efek dari penerapan PSBB di awal pandemi, antara lain terlihat pada Indeks Penjualan Ritel (RSI), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), penjualan mobil, konsumsi listrik, Google mobility, PMI, serta ekspor impor.
“Sinyal pemulihan ekonomi juga terus berlanjut seiring perluasan pemberian vaksin dan kebijakan PPKM yang terkendali. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2021 menguat, terealisasi sebesar 93,4, dan merupakan yang tertinggi sejak Desember 2020,” kata Dito dalam rapat kerja membahas mengenai Evaluasi Perekonomian Nasional dan Stabilitas Sistem Keuangan Triwulan I Tahun 2021 di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin, 14 Juni 2021, dikutip mediaemiten.com dari dpr.go.id.
Dito yang merupakan politisi Fraksi Partai Golkar itu mengatakan, aktivitas konsumsi masyarakat juga menunjukkan perbaikan, dan diperkirakan akan terus menguat pada triwulan II tahun 2021, terutama konsumsi makanan dan minuman, informasi dan transportasi, pakaian, serta perlengkapan rumah tangga dan rekreasi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, perekonomian Indonesia dalam proses menuju pemulihan dengan tumbuh – 0,74 persen di kuartal I-2021.
Baca Juga:
Menurut Dito, perbaikan ini, merupakan hasil dari pelaksanaan APBN 2021.
Hal itu terlihat dari konsumsi pemerintah dan rumah tangga yang terus menguat, serta ekspor impor yang tumbuh positif.
Selanjutnya, Bank Indonesia (BI) juga telah melanjutkan bauran kebijakan yang akomodatif untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional.
Simak Pula: Kinerja Moncer, Pertamina Cetak Laba Bersih Rp 15 Triliun
Baca Juga:
Bangun Masa Depan Nol Karbon | LiuGong Gelar Global Customer Day Keenam di Liuzhou
Creality Rayakan 12 Tahun Inovasi dengan KliTek™ dan Ekspansi Ekosistem Berbasis AI
Dari sisi kebijakan moneter, BI mempertahankan kebijakan suku bunga rendah dengan mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI-7DRR) di level 3,50%.
BI juga perlu untuk terus melakukan triple intervention untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamental dan mekanisme pasar.
“Selanjutnya, di tengah pandemi yang masih berlanjut, rasio prudensial sektor keuangan yang berperan penting terhadap stabilitas sektor keuangan tetap terjaga dengan baik,” ucap Dito.
Sampai Maret 2021, perbankan masih menunjukkan kondisi permodalan yang kuat dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio – CAR) berada pada level 24,18%.
Kemudian, gearing ratio industri pembiayaan juga berada di level 2,03 kali, serta Risk-Based Capital (RBC) industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing jauh di atas threshold.
Untuk mendukung percepatan pemulihan ekonomi nasional, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga telah menurunkan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP). per Maret 2021, penjaminan LPS mencakup 99,92% dari total rekening atau 50,15% dari total nominal simpanan.
Baca Juga:
EngineAI Resmikan Pabrik Cerdas di Shenzhen, Robot Humanoid T800 Mulai Dikirim secara Massal
Gravity Game Unite (GGU) Tutup OBT MMORPG PC “Ragnarok Zero: Global” dengan Sukses Besar
“Kebijakan ini bertujuan untuk mendorong penurunan biaya dana (cost of fund) perbankan agar suku bunga kredit menjadi turun untuk mendorong pertumbuhan kredit,” ucap Dito.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan prediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2021 berkisar 7,1 hingga 8,3% year on year (yoy).
Sementara sepanjang tahun ini ditargetkan berada di rentang 4,5% sampai dengan 5,3% yoy.
Baca Juga: Kimia Farma Diagnosis & Itama Ranoraya Berkolaborasi dalam Penyediaan Pengujian Swab Antigen
“Meski demikian, seiring dengan kenaikan Covid-19 harus hati-hati terutama proyeksi upper bound di 8,3%. Kuartal II kita berhadap terjadi pemulihan kuat, namun Covid-19 pada minggu kedua Juni akan mempengaruhi koreksi ini. Kalau Covid-19 bisa menurun, masih bisa berharap,” tutur Ani sapaan akrab Menteri Keuangan, Sri Mulyani.
Menurut Sri Mulyani, proyeksi pertumbuhan ekonomi pada Juni akan menentukan posisi pertumbuhan ekonomi kuartal II-2021. Dibandingkan April-Mei 2020, basis ekonomi saat ini jauh lebih tinggi.
“Kalau kita lihat lonjakannya cukup besar. Pada Juni ini harus diwaspadai karena bulan Juni ini bulan akhir triwulan ke II, jadi nanti pasti akan terpengaruh terhadap penilaian stabilitas ekonomi triwulanan,” kata Sri Mulyani. (wan)











