MEDIA EMITEN – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan laba pada kuartal I-2023 yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,16 triliun, turun 48,89% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Dalam laporan keuangan kuartal I-2023, tercatat pendapatan emiten batu bara itu sebesar Rp 9,95 triliun, naik dari sebelumnya Rp 8,20 triliun.
Namun, beban pokok pendapatan juga melonjak tajam dari Rp 4,75 triliun ke Rp 7,89 triliun sehingga laba bruto perseroan turun dari Rp 3,45 triliun ke Rp 2,05 triliun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, terdapat beban umum dan administrasi Rp 509,01 miliar, beban penjualan dan pemasaran Rp 189,80 miliar, dan beban lainnya – neto Rp 39,25 miliar. Alhasil laba usaha Rp 1,31 triliun, anjlok dari Rp 2,86 triliun pada kuartal I-2022.
Corporate Secretary Bukit Asam, Apollonius Andwie C menjelaskan, berbagai hal yang menjadi tantangan bagi perseroan di tahun ini, di antaranya adalah koreksi harga batu bara, fluktuasi pasar, hingga kondisi geopolitik.
“Harga pokok penjualan mengalami kenaikan, di antaranya karena biaya jasa penambangan, bahan bakar, royalti, angkutan kereta api,” katanya dalam keterangan resmi, Jumat 28 April 2023.
Dari laporan keuangan terungkap bahwa jasa penambangan pada kuartal I-2023 Rp 2,09 triliun, jasa angkutan kereta api Rp 2,05 triliun, bahan bakar dan pelumas Rp 426,63 miliar. Sedangkan royalti ke pemerintah Rp 1,29 triliun.
Apollonius menambahkan, PTBA terus berupaya memaksimalkan potensi pasar di dalam negeri serta peluang ekspor untuk mempertahankan kinerja positif.
Perseroan, kata dia, juga konsisten mengedepankan cost leadership di setiap lini perusahaan, sehingga penerapan efisiensi secara berkelanjutan dapat dilakukan secara optimal.







