MEDIA EMITEN – Kekhawatiran efek penularan dari krisis bank di AS dan Eropa mengakibatkan dolar jatuh pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB).
Pemulihan awal di saham Eropa kehabisan tenaga, karena sentimen investor tetap rapuh setelah seminggu bergejolak menyusul kegagalan Silicon Valley Bank pada 10 Maret 2023.
Bank-bank AS telah mencari pinjaman US$ 153 miliar alam likuiditas darurat dari Federal Reserve dalam beberapa hari terakhir, sementara pinjaman US$ 54 miliar untuk Credit Suisse dan US$ 30 miliar untuk First Republic, namun gagal menghentikan penurunan saham mereka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Credit Suisse jatuh 8% di Eropa dan First Republic Bank anjlok 30%
Indeks dolar, ukuran dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,604 persen karena para pedagang menunggu pertemuan kebijakan dua hari Fed yang diperkirakan akan berakhir dengan kenaikan suku bunga seperempat poin persentase pada 22 Maret.
Kontrak untuk Fed fund berjangka menunjukkan probabilitas 61,3% bahwa Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, menurut Alat FedWatch CME.
Pasar berjangka juga menunjukkan Fed akan memangkas suku bunga pada Juli sebagai tanda kekhawatiran resesi meningkat, karena Bank Sentral AS memperketat kebijakan moneter untuk melawan inflasi yang tinggi.
Baca Juga:
Hisense Berkolaborasi dengan “Phantom Blade Zero”, Hadirkan Pengalaman Gim RGB Generasi Baru
Hikvision Umumkan Kinerja Keuangan Periode 2025 dan Triwulan I-2026
TOKOH PENDIDIKAN GLOBAL BERKUMPUL DI SINGAPURA DALAM KONFERENSI PENTING YANG MEMBAHAS PERAN AI
Masalah perbankan menghidupkan kembali ingatan akan krisis keuangan tahun 2008, ketika lusinan lembaga gagal atau ditebus dengan miliaran dolar uang pemerintah dan bank sentral.
Tiga pemberi pinjaman AS yang lebih kecil, termasuk First Republic, telah meminta regulator dan bank lain turun tangan untuk menopang mereka, sementara di Eropa, Credit Suisse menjadi bank global besar pertama sejak krisis keuangan yang mendapatkan bantuan darurat.
Penyelamatan First Republic pada Kamis (16/3) awalnya meningkatkan selera risiko pada Jumat (17/3), karena kekhawatiran tentang bank global mereda, membuka jalan bagi lonjakan dolar Australia dan Selandia Baru.
Euro naik 0,66% menjadi US$ 1,0675. Sterling terakhir diperdagangkan naik 0,7% pada 1,2192 dolar AS, sementara dolar AS turun 0,39%terhadap franc Swiss.
Baca Juga:
Coda Perluas Upaya Pencegahan Penipuan melalui Kampanye Terbaru Guard Your Game
Praktik Integrasi “Eco+” Ningbo Ditampilkan dalam Forum SCO
Produk Guangdong Mendunia: Acara “Produk Zhongshan di Malaysia” Resmi Debut di Luar Negeri
Awal pekan ini, franc jatuh paling parah terhadap dolar AS dalam satu hari sejak 2015, ketika Bank Sentral Swiss melonggarkan mata uangnya.
Yen Jepang, yang cenderung menguntungkan pada saat volatilitas atau tekanan pasar yang ekstrem, menguat 1,48 persen versus greenback menjadi 131,77 per dolar AS.
Pejabat Kementerian Keuangan Jepang, Badan Jasa-jasa Keuangan dan Bank Sentral Jepang bertemu pada Jumat (17/3) malam untuk membahas pasar keuangan.
Dolar Australia, yang sering berkinerja baik saat investor merasa optimis, naik 0,81 persen menjadi 0,671 dolar AS.







