MEDIA EMITEN – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Tohir mengangkat Doni Monardo menjadi Komisaris Utama PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero), setelah pensiun sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB).
Pengangkatan Doni Monardo ini setelah digelarnya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Inalum pada Kamis, 10 Juni 2021.
Baca Juga: Doni Monardo Ajak Masyarakat di Rumah Saja, Meski Ada Libur Natal dan Tahun Baru
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Erick Thohir menilai pengangkatan Letnan Jenderal TNI (Purn) Doni Monardo sebagai pengawas perusahaan BUMN ini sangat tepat. Hal ini mengingat segudang pengalaman, kemampuan, jaringan, dan prestasi yang dimiliki Doni, baik di dalam maupun di luar TNI.
Doni Monardo lahir di Cimahi, Jawa Barat, 10 Mei 1963. Putra asli Minang ini berdarah militer.
Ayahnya, Letkol CPM Nasrul Saad berasal dari Lintau, Kabupaten Tanah Datar dan ibu, Roeslina, dari Nagari Sungai Tarab, Tanah Datar.
Karena ayahanda yang seorang prajurit,Doni kecil pun ikut berpindah-pindah.
Lahir di Cimahi, lalu menghabiskan masa kanak kanak di Aceh.
Setelah itu, baru tinggal di Padang, hingga lulus SMA.
Seperti pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Doni masuk Akademi Militer setelah lulus SMA, seperti dikutip mediaemiten.com dari wikipedia.org.
Tahun 1985, Doni mengawali masa kedinasannya sebagai seorang prajurit.
Baca Juga:
Fortune perluas kepemimpinan di Asia dengan Direktur Editorial dan Kepala Brand Studio baru
Lebih tiga dasawarsa, tepatnya 34 tahun sudah Doni malang melintang melakoni penugasan.
Pernah berdinas di Banten, Bali, Aceh, Jakarta, Sulawesi Selatan, Bogor, Maluku, dan Jawa Barat.
Penugasan luar negerinya juga termasuk menonjol.
Di antara sederet daerah tempat Doni bertugas, tidak ada satu daerah pun di wilayah Sumatera Barat, apalagi Tanah Datar. lebih-lebih Nagari Sungai Tarab.
Perjalanan Karir Doni Monardo
Penempatan pertama langsung pada Komando Pasukan Khusus atau Kopassus tahun 1986 sampai dengan 1998.
Baca Juga:
Selama di Kopassus, ia pernah ditugaskan ke Timor Timur, Aceh, dan daerah lainnya.
Pada tahun 1999 hingga 2001, lelaki yang suka kegiatan menembak dan beladiri ini ditugaskan pada Batalyon Raider di Bali.
Kemudian ditarik kembali di Paspampres hingga tahun 2004, lalu mengikuti pelatihan counter terrorism yang dilaksanakan di Korea Selatan.
Pada tahun 2005 sampai dengan 2006, Doni ditugaskan di Aceh.
Setahun di sana, dia kembali ditarik ke Jakarta bergabung dengan Paspampres.
Pada tahun 2006 dipindahkan ke Makassar, Sulawesi Selatan, di Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, atau yang lebih dikenal dengan Kostrad.
Salah satu program yang hingga kini dikenang masyarakat Makassar adalah penghijauan beberapa kawasan tandus di Sulawesi Selatan termasuk di sekitar Bandara Hasanuddin.
Setelah di Makassar, Doni di promosikan menjadi Dan Grup A Paspampres.
Selama bertugas mengawal orang nomor satu di Republik Indonesia, Doni sudah sudah mengikuti kunjungan Presiden Indonesia ke 27 negara.
Pada tahun 2010, Doni kemudian diberi kepercayaan menjadi Danrem 061 Surya Kencana Bogor.
Selang beberapa bulan menjadi Danrem di Bogor, Doni diangkat menjadi Wadanjen Kopassus.
Salah satu tugas yang melambungkan namanya adalah ketika ditugaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Wakil Komando Satuan Tugas untuk pembebasan kapal MV Sinar Kudus yang dibajak oleh perompak Somalia.
Atas keberhasilan itu pangkat Doni dinaikkan setingkat menjadi Brigadir Jenderal.
Baca Juga: Pertamina Pastikan Masyarakat Tidak Terdampak Insiden Tangki di Kilang Cilacap
Bulan April 2012 Doni mengikuti pendidikan PPSA XVIII di Lemhanas.
Baru empat bulan di Lemhannas, Doni dipromosikan menjadi Danpaspampres.
Sebelum diangkat menjadi Komisaris Utama Inalum, Doni Monardo juga pernah menjabat Ketua Satgas Penanganan Covid-19. (Tim)














