Pendaparan PT Cisadane Sawit Raya (CSRA) Naik Jadi Rp 145,6 miliar

- Pewarta

Kamis, 18 Juni 2020 - 14:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengaruh Saham Tiongkok - Calon investor melakukan pelatihan di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta, kemarin. Tiongkok dari Januari hingga Juni 2015 mengalami peningkatan yang tinggi, yakni sebesar 60% dan sekarang koreksi 40%. Selain itu, harga saham kini cenderung lebih cepat naik dan turun. Dengan kondisi ekonomi pasar saat ini, pertumbuhan ekonomi dan pasar saham di suatu negara berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi dan pasar saham negara lain.

Pengaruh Saham Tiongkok - Calon investor melakukan pelatihan di galeri Bursa Efek Indonesia, Jakarta, kemarin. Tiongkok dari Januari hingga Juni 2015 mengalami peningkatan yang tinggi, yakni sebesar 60% dan sekarang koreksi 40%. Selain itu, harga saham kini cenderung lebih cepat naik dan turun. Dengan kondisi ekonomi pasar saat ini, pertumbuhan ekonomi dan pasar saham di suatu negara berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi dan pasar saham negara lain.

Mediaemiten.com, Jakarta – PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) telah melakukan permulaan yang baik, sebagai emiten anyar yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Januari 2020. Perusahaan yang mengembangkan areal perkebunan dan produksi minyak sawit di Kabupaten Labuan Batu, Sumatera Utara itu, membukukan pertumbuhan pendapatan yang kuat.

“Pendapatan perusahaan meningkat sebesar 34,1 persen YoY menjadi Rp145,6 miliar dalam tiga bulan pertama tahun 2020,” tutur Vanessa selaku Investor Relation CSRA kepada EmitenNews.com, Rabu (17/6/2020).

Kinerja pendapatan positif ini terutama dari kemampuan perusahaan membukukan volume produksi TBS internal yang lebih tinggi bersama dengan rata-rata harga jual lebih kuat di QI-2020 dibandingkan QI-2019. Dapat dicatat bahwa di QI20, produksi internal TBS CSRA meningkat sekitar 8 persen YoY.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tengah pandemi covid-19 yang menghantam setiap sektor usaha di belahan dunia, CSRA tetap optimistis dengan terjaganya upaya menguatkan margin keuntungan. Hingga akhir Maret 2020, margin kotor CSRA, dan margin operasi masing-masing berada di 45,5 persen dan 31,0 persen, yang menunjukkan peningkatan substansial dibadingkan level Q1-19.

Selain kemampuannya untuk mencatat pendapatan yang kuat, ekspansi margin positif ini juga menunjukkan peningkatan produktivitas berkelanjutan dari perusahaan dan strategi pengendalian biaya yang solid.

Secara keseluruhan, serangkaian hasil positif ini telah membawa laba bersih CSRA tumbuh sekitar lima kali lipat yang diterjemahkan menjadi 22,32 persen margin laba bersih di QI-20. Hal ini juga menampilkan upaya tak henti-hentinya perusahaan untuk terus berkomitmen dalam memberikan nilai lebih kepada para pemegang sahamnya.

CSRA berfokus untuk meningkatkan produksi TBS demi memaksimalkan potensi cukup besar dari profil umur tanaman yang masih relatif muda. Namun, perseroan juga mempertahankan pandangannya untuk terus memantau dinamika harga meskipun terjadi peningkatan harga akhir ini terkait dengan mulai dibukanya kegiatan ekonomi di sejumlah negara.

Oleh karena itu, menjaga efisiensi dan keunggulan operasi di semua spektrum akan tetap menjadi fokus utama perusahaan pada saat ini.

Saat pertama kali mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), harga penawaran perdana CSRA hanya Rp125 per saham. Saat ini harga saham perseroan terus mengalami tren penguatan seiring dengan laporan kinerja perseroan yang positif.

Pada perdagangan hari ini, Rabu (17/6/2020), harga saham CSRA dibuka pada level 228 dan mengalami penguatan cukup signifikan hingga tumbuh 1,75 persen atau 4 poin pada penutupan sasi I dengan range dilevel 228-240.

Yang perlu menjadi catatan adalah optimisme dalam target perseroan pasca- IPO adalah seperti disampaikan oleh Seman Sendjaja saat perseroan memulai tatanan baru sebagai perusahaan tercatat. Menurut Direktur CSRA itu, perseroan menargetkan bisa menambah produksi TBS mencapai 50.000 ton pada tahun ini. Sementara itu, produksi CPO ditargetkan bisa menyentuh 50.000 ton, naik tipis dari 45.000 ton pada tahun lalu. (ten)

Berita Terkait

Panduan Cara Memahami Bisnis Bitcoin dan Cara Membelinya
PT STM Sukseskan MotoGP Mandalika 2025, Sediakan Helikopter untuk Transportasi dan Evakuasi Medis
RIIFO Indonesia Memperkenalkan RIIFO Design & RIIFO Care, Solusi Inovatif untuk Industri Perpipaan
Ketahui Fungsi Platform Payment di Indonesia, Mudah dan Aman untuk Transaksi Bisnis
Mega Jaya, Lebih dari Sekadar Distributor Lifting Equipment
Nikmati Liburan dengan Rental Mobil Bandung Lepas Kunci
Perkuat Struktur Pendanaan Jangka Panjang, BRI Fokus Himpun Dana Murah
BRImo Siap Layani Kebutuhan Transaksi Finansial Kapan Saja, Liburan Lebih Tenang

Berita Terkait

Sabtu, 8 November 2025 - 04:56 WIB

Panduan Cara Memahami Bisnis Bitcoin dan Cara Membelinya

Rabu, 8 Oktober 2025 - 10:55 WIB

PT STM Sukseskan MotoGP Mandalika 2025, Sediakan Helikopter untuk Transportasi dan Evakuasi Medis

Senin, 22 September 2025 - 17:21 WIB

RIIFO Indonesia Memperkenalkan RIIFO Design & RIIFO Care, Solusi Inovatif untuk Industri Perpipaan

Jumat, 19 September 2025 - 21:34 WIB

Ketahui Fungsi Platform Payment di Indonesia, Mudah dan Aman untuk Transaksi Bisnis

Jumat, 12 September 2025 - 07:09 WIB

Mega Jaya, Lebih dari Sekadar Distributor Lifting Equipment

Berita Terbaru

Pers Rilis

Thunes Luncurkan Pembayaran di Waktu Nyata ke Selandia Baru

Selasa, 21 Apr 2026 - 02:00 WIB