Waspada, Bahaya Penyakit Hepatitis karena Termasuk Silent Killer

- Pewarta

Kamis, 30 Juli 2020 - 16:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mediaemiten.com, Jakarta – Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia Irsan Hasan mengatakan hepatitis merupakan penyakit peradangan hati yang disebabkan oleh virus hepatitis, perlemakan, obat-obatan, alkohol, parasit maupun virus lainnya.

Hepatitis terdiri dari hepatitis A, B, C, D dan E sementara yang masih endemis di Indonesia ada tiga yakni A, B, dan C.

Penyakit ini sering kali dikenal sebagai “silent killer” karena umumnya tanpa gejala, sehingga banyak orang yang tidak menyadari tengah menderita hepatitis.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sembilan dari 10 pengidap tidak menyadari dirinya memiliki hepatitis B bahkan C. Satu dari empat pengidap akan meninggal karena kanker atau gagal hati, sehingga kita katakan hepatitis ini silent killer,” kata Irsan melalui keterangan resmi yang dikutip InfoPublik Rabu (29/7/2020).

Penderita hepatitis, lanjut Irsan akan mengalami perjalanan dari hati sehat, hepatitis akut, hepatitis kronik, kemudian sirosis hati dengan progres sekitar 1/3 penderita hepatitis akan mengalami sirosis.

Selanjutnya dari sirosis 10-15 persen akan menjadi kanker, 23 persen dalam lima tahun pengidap sirosis akan mengalami gagal hati yang berujung pada kematian. Kendati memiliki ancaman kematian yang tinggi, hepatitis bisa dicegah dan diobati.

Pada Hepatitis B pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari faktor risiko serta memberikan kekebalan dengan imunisasi aktif dan pasif. Untuk pengobatan hepatitis B dilakukan dengan pemberian vaksin dalam jangka waktu seumur hidup.

Targetnya, untuk menghambat progresi virus sehingga fungsi hati semakin membaik. Hal ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/322/2019 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Hepatitis B.

Hepatitis B harus diberikan terapi dalam jangka waktu panjang, kalau mengalami sirosis obat harus diberikan seumur hidup, kalau tidak sirosis obat diberikan sampai target tertentu. Sementara pada Hepatitis C, pencegahan dengan membudayakan gaya hidup bersih dan sehat serta menghindari faktor risiko.

Pengobatan dilakukan dengan pemberian Direct Acting Antivirus (DAA) dengan target sampai sembuh. Pengobatan jenis ini dinilai sebagai terapi yang sangat ideal karena memiliki tingkat kesembuhan sangat tinggi, obat kombinasi oral, efek samping rendah, durasi pengobatan singkat, lebih murah, SVR tinggi dan tersedia.

Meski ideal, banyak penderita hepatitis C yang tidak terdeteksi sehingga sangat sedikit yang diobati. Lebih lanjut, hepatitis A menular secara fecal oral (anus-mulut) melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi tinja seseorang yang telah terifeksi Hepatitis A.

Hepatitis jenis ini bisa sembuh dengan sendirinya tetapi juga dapat menimbulkan kejadian luar biasa. Untuk itu, Hepatitis A tidak ada pengobatan khusus, upaya pengendaliannya lebih mengutamakan pencegahan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

“Gaya hidup sehat sama seperti yang selalu dianjutkan Kementerian Kesehatan seperti olahraga, makan bergizi, tidak ada yang khusus pada yang sudah sakit. Kalau untuk mencegah hepatitis B dengan vaksin untuk C hindari faktor risiko seperti narkotika, jarum tato, tindik dll. Tapi kalau sudah sakit hepatitis, tidak ada larangan khusus,” kata Irsan. (inf)

Berita Terkait

Hotel Gatot Subroto, Koneksi dan Kenyamanan di Jakarta Selatan
Compact Living Cellini, Solusi Furniture untuk Apartemen  
BRI Berdayakan UMKM Manfaatkan Peluang di Industri Gula Aren, Tren Gaya Hidup Sehat Kian Digemari
Inilah 5 Khasiat dan Manfaat Jeruk Purut untuk Kesehatan Jasmani Termasuk Meningkatkan Kualitas Tidur
Dukungan BRI Dorong Kreativitas Generasi Muda, USS 2024 Presented by BRImo: Kolaborasi Fashion dan Lifestyle
Gaet Vidi Aldiano, BRI Edukasi Masyarakat Hindari Modus Penipuan Lewat Lagu
BRI Gelar Kompetisi ‘Creator Fest 2024’, Dukung Perkembangan Industri Kreatif Nasional
Lestarikan Warisan Budaya Nusantara, BRI Dukung Event Jelajah Kuliner Indonesia 2024

Berita Terkait

Sabtu, 20 September 2025 - 18:27 WIB

Hotel Gatot Subroto, Koneksi dan Kenyamanan di Jakarta Selatan

Rabu, 30 Juli 2025 - 20:08 WIB

Compact Living Cellini, Solusi Furniture untuk Apartemen  

Sabtu, 3 Mei 2025 - 12:40 WIB

BRI Berdayakan UMKM Manfaatkan Peluang di Industri Gula Aren, Tren Gaya Hidup Sehat Kian Digemari

Senin, 16 Desember 2024 - 13:58 WIB

Inilah 5 Khasiat dan Manfaat Jeruk Purut untuk Kesehatan Jasmani Termasuk Meningkatkan Kualitas Tidur

Sabtu, 26 Oktober 2024 - 11:48 WIB

Dukungan BRI Dorong Kreativitas Generasi Muda, USS 2024 Presented by BRImo: Kolaborasi Fashion dan Lifestyle

Berita Terbaru

Pers Rilis

Hainan: Etalase Kebijakan Pintu Terbuka Tiongkok

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:45 WIB