Mediaemiten.com, Jakarta – Pergerakan nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis sore bergerak melemah sebesar 44 poin menjadi Rp15.297 dibandingkan posisi sebelumnya Rp15.253 per dolar AS, terimbas isu perang dagang yang kembali memanas.
Analis Valbury Asia Futures, Lukman Leong di Jakarta, Kamis (11/10/2018), mengatakan bahwa sentimen perang dagang kembali membebani laju mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
BACA JUGA : Rupiah Menguat Seiring Penurunan Imbal Hasil Obligasi AS
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Beredar kabar Presiden AS Donald Trump siap meningkatkan tarif impor lebih lanjut terhadap produk Tiongkok,” ujarnya.
Selanjutnya, ia mengatakan, perang dagang yang kembali memanas itu akan memicu Tiongkok untuk melakukan devaluasi mata uangnya, kondisi itu tentu berimbas negatif pada mata uang di kawasan sekitar.
“Sentimen perang dagang cukup kuat mempengaruhi mata uang rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya,” katanya.
Di tengah situasi eksternal yang kurang kondusif, lanjut dia, membuat investor cenderung menahan diri untuk masuk ke aset negara berkembang, termasuk Indonesia yang akhirnya memicu tekanan pada nilai tukarnya.
Baca Juga:
Riset LPEM FEB UI: Pindar AdaKami Jadi Bantalan Saat Masyarakat Hadapi Tekanan Ekonomi
Dari Budaya Etnik Li hingga Asian Beach Games: Sanya Tampilkan Identitas Budaya Sambut Tamu Asia
Dahua Technology Luncurkan Laporan ESG 2025: Dorong Pembangunan Berkelanjutan lewat Inovasi Digital
Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari ini (11/10), tercatat mata uang rupiah melemah menjadi Rp15.253 dibanding sebelumnya (10/10) di posisi Rp15.215 per dolar AS. (zub)







