MEDIA EMITEN – Mata uang rupiah terus melemah dengan kurs Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Jumat 21 Oktober 2022 menyentuh Rp 15.610, turun 31 poin atau sekitar 0,2% dibanding hari sebelumnya.
Di pasar antarbank, rupiah ditransaksikan melemah 60 poin atau 0,39% ke posisi Rp 15.632 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 15.572 per dolar AS.
Pergerakan rupiah lebih banyak sentimen dari global, terutama karena dolar AS terus menguat terhadap mata uang lainnya seiring kekhawatiran resesi dan sikap The Fed yang masih akan agresif dalam menaikkan suku bunga acuannya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, mata uang regional Asia mayoritas juga melemah, seperti yuan Tiongkok turun 0,5%, baht Thailand melemah 0,38%, dan yen Jepang terdepresiasi 0,48%.
Pasar menilai, kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia tidak cukup menahan arus dana keluar dari pasar uang.
Bank Indonesia, kemarin, I kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) dari 4,25% menjadi 4,75%, setelah pada bulan lalu turut meningkatkan bunga acuan dengan besaran yang sama.
Selain bunga acuan, bank sentral turut menaikkan suku bunga deposit facility dan lending facility masing-masing sebesar 50 bps menjadi 4% dan 5,5%.
Baca Juga:
Asian Beach Games ke-6 di Sanya Resmi Berakhir, Tim China Menempati Posisi Teratas Klasemen Medali
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan tekanan dari sisi arus modal asing meningkat, terutama dalam bentuk investasi portofolio, seiring dengan tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global.
BI menyebut keputusan itu sebagai langkah front loaded, pre-emptive, dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi atau overshooting.
Selain itu, keputusan tersebut untuk memastikan inflasi inti ke depan kembali ke dalam sasaran 2-4% lebih awal, yaitu ke paruh pertama 2023, serta memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Fokus pasar masih dihantui bayangan resesi global. Pelaku pasar mengkhawatirkan kenaikan suku bunga bank sentral di berbagai negara untuk menahan inflasi dapat mendorong ekonomi global mengalami kontraksi.
Baca Juga:
CMEF 2026 Resmi Ditutup di Shanghai, Tampilkan Inovasi Medis Global dan Tren Industri Masa Depan
Sejumlah komentar hawkish dari pejabat bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), mengguncang pasar minggu ini. Salah satunya komentar dari Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari yang memperingatkan bahwa inflasi yang terlalu panas dapat memacu The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan di atas 4,75%, level tertinggi sejak 2007.








