Mediaemiten.com, Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa sore (15/1/2019), menguat sebesar 31 poin ke posisi Rp14.093 dibandingkan sebelumnya Rp14.124 per dolar AS.
“Pergerakan rupiah cenderung dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Penutupan pemerintah di Amerika Serikat menjadi sentimen positif bagi rupiah,” ujar Pengamat pasar uang dari Bank Woori Saudara Indonesia Rully Nova di Jakarta, Selasa (15/1/2019).
BACA JUGA : Rupiah Pagi Menguat Jadi Rp14.095
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menilai dampak penutupan pemerintahan Amerika Serikat akan berdampak pada perlambatan perekonomian Amerika Serikat, akibatnya aset berdenominasi dolar AS menjadi kurang diminati dan beralih ke negara-negara berkembang dengan prospek perekonomian yang menjanjikan, seperti Indonesia.
Namun, menurut dia, apresiasi rupiah dapat tertahan menyusul data neraca perdagangan Indonesia yang mengalami defisit.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada 2018 mengalami defisit mencapai 8,57 miliar dolar AS.
Ekonom Samuel Sekuritas, Ahmad Mikail mengatakan penutupan pemerintahan yang terjadi merupakan yang terlama dalam sejarah Amerika Serikat.
Baca Juga:
CMEF 2026 Resmi Ditutup di Shanghai, Tampilkan Inovasi Medis Global dan Tren Industri Masa Depan
Terbitkan Laporan ESG 2025, Hikvision Dorong Pembangunan Berkelanjutan Lewat “Tech for Good”
“Itu yang membuat laju dolar AS cenderung tertahan,” katanya.
Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari ini (15/1), tercatat mata uang rupiah melemah menjadi Rp14.084 dibanding sebelumnya (14/1) di posisi Rp14.052 per dolar AS. (zub)







