Restrukturisasi Utang, Laba Bersih CPRO Melesat 481,84%

- Pewarta

Minggu, 1 Mei 2022 - 09:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: pengilahan udang PT Central Proteina Prima Tbk (CPRO)/cpp.co.id

Foto ilustrasi: pengilahan udang PT Central Proteina Prima Tbk (CPRO)/cpp.co.id

MEDIA EMITEN – Laba bersih PT Central Proteina Prima Tbk (CPRO) melesat 481,84% pada 2021 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp 2,211 triliun. Ini dikarenakan perseroan berhasil melakukan restrukturisasi utang obligasi seniliai Rp1,74 triliun.

Data yang diunggah laman Bursa Efek Indonesia(BEI), Sabtu 30 April 2022 mencatat , perusahaan pakan ternak tersebut berhasil melambungkan laba per saham dasar ke level Rp 37,1, sedangkan akhir tahun 2020 berada di level Rp 6,4.

Laporan keuangan CPRO tahun 2021 yang telah diaudit mencatat, penjualan bersih tumbuh 6% menjadi Rp 8,028 triliun yang ditopang kenaikan penjualan pakan ternak sebesar 7,3% menjadi Rp 6,409 triliun.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara itu, pertumbuhan penjualan produk makanan sebesar 1,8% menjadi Rp1,322 triliun. Sedangkan penjualan benur tumbuh 4,15%  menjadi Rp 276,39 miliar.

Walau beban pokok penjualan bengkak 4,89% menjadi R p6,533 triliun, tapi laba kotor tumbuh 11,07% menjadi Rp 1,494 triliun. Menariknya, perseroan membukukan keuntungan penyelesaian utang obligasi seniliai Rp1,74 triliun.Pos ini nihil tahun 2021

Keuntungan itu berasal dari penyelesaian penataulangan Senior Facilties Agreement(SFA) Tranche A dan Tranche B pada tanggal 23 September 2021. Dari restrukturisasi utang tersebut terdapat selisih antara fasilitas jangka panjang Tranche A senilai US$ 51,513 juta, dengan utang obligasi dan bunga obligasi ditangguhkan sebesar US$ 62,46 juta, utang bunga obligasi yang belum dibayarkan sebesar US$ 25,99 juta, denda atas keterlambatan pembayaran pokok dan bunga utang obligasi senilai US$2,738 juta, serta biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan SFA senilai US$17,553 juta sebagai keuntungan dari penghapusan utang sebesar US$122,13 juta.

Dampaknya, perseroan mencatatkan laba sebelum pajak final senilai Rp2,286 triliun, atau melonjak 1.072% dibandingkan tahun 2020 sebesar Rp195,39 miliar.

Sementara itu, aset tumbuh menjadi Rp6,448 triliun, karena akumulasi kerugian turun 34,9%  sisa Rp4,142 triliun.

Berita Terkait

Resmi Dibuka, Astra Auto Fest 2025 Semarak Beragam Promo dari Grup Astra
Pasar Modal Indonesia Waspada, CSA Index September 2025 Terkoreksi
Strategi BUMI Kuasai Wolfram, Tambang Emas Jumbo di Queensland Australia
Analisis: Keterlambatan Laporan Keuangan Picu Asimetri Informasi di Pasar
Strategi SMMA Konversi Utang Jadi Saham, Langkah Cerdas Atasi Beban Finansial
CSA Index RI Agustus Tertinggi Sejak Awal Tahun
Strategi Baru Remala Abadi: Transaksi Saham Komisaris Tingkatkan Kontrol Bisnis
Pasca Keluar dari LQ45, SIDO Pindah Fokus dari Domestik ke Internasional

Berita Terkait

Jumat, 5 Desember 2025 - 18:00 WIB

Resmi Dibuka, Astra Auto Fest 2025 Semarak Beragam Promo dari Grup Astra

Jumat, 12 September 2025 - 22:03 WIB

Pasar Modal Indonesia Waspada, CSA Index September 2025 Terkoreksi

Rabu, 20 Agustus 2025 - 15:17 WIB

Strategi BUMI Kuasai Wolfram, Tambang Emas Jumbo di Queensland Australia

Rabu, 20 Agustus 2025 - 10:11 WIB

Analisis: Keterlambatan Laporan Keuangan Picu Asimetri Informasi di Pasar

Senin, 18 Agustus 2025 - 11:46 WIB

Strategi SMMA Konversi Utang Jadi Saham, Langkah Cerdas Atasi Beban Finansial

Berita Terbaru