Respon Gejolak Global, Bank Indonesia Dinilai Sudah Cukup Agresif

- Pewarta

Jumat, 26 Oktober 2018 - 07:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mediaemiten.com, Jakarta – Ekonom senior Bursa Efek Indonesia (BEI) Poltak Hotradero menilai kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dalam merespon gejolak ekonomi global dengan menaikkan suku bunga acuan dalam beberapa bulan terakhir sudah cukup agresif.

“Kalau dibandingkan dengan negara-negara lain peers-nya Indonesia, BI itu sudah cukup agresif dan sudah punya spread yang lebar banget,” ujar Poltak di Jakarta, Jumat (26/10/2018).

Sejak April 2018, BI sudah meningkatkan suku bunga acuan atau BI 7 days reverse repo rate sebesar 150 basis poin dari 4,25 persen menjadi 5,75 persen.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, pada Rapat Dewan Gubernur Selasa (23/10/2018) lalu, bank sentral akhirnya mempertahankan tingkat suku bunga acuannya di angka 5,75 persen.

“Ketimbang setiap waktu harus naikin, lebih baik pause dulu lah, lihat keadaan,” kata Poltak.

Selain itu, lanjut Poltak, Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve diyakini tidak akan terus menaikkan suku bunganya karena akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi di AS sendiri.

“Ekonomi AS saat ini sudah memasuki bulan ke 111 ekspansi ekonomi terpanjang dalam sejarah. Jadi mulai ada orang betting nih, kayaknya ekonomi AS gak akan sekuat yang diperkirakan,” ujarnya.

Sebelumnya, RDG BI pada 22-23 Oktober 2018 lalu emutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,5 persen.

BI menyatakan, keputusan tersebut konsisten dengan upaya untuk menurunkan defisit transaksi berjalan ke dalam batas aman dan mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik sehingga dapat semakin memperkuat ketahanan eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

BI juga terus menempuh strategi operasi moneter yang diarahkan untuk menjaga kecukupan likuiditas baik di pasar Rupiah maupun pasar valas serta secara efektif memberlakukan transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) mulai 1 November 2018. (cit)

Berita Terkait

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama
FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025
Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?
Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan
Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek
Kasus Jiwasraya: Tanah Benny Tjokro Bogor Dilelang, Negara Kumpulkan Rp18 M
ICC Singapura Jadi Arena Gugatan Kontrak Satelit: Indonesia Siapkan Bukti Lengkap Lawan Detenté Operation
TRUE Optimistis Proyek District East Meningkatkan Laba dan Valuasi Aset

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:53 WIB

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama

Kamis, 14 Agustus 2025 - 11:43 WIB

FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025

Jumat, 1 Agustus 2025 - 07:16 WIB

Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?

Senin, 28 Juli 2025 - 09:59 WIB

Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan

Kamis, 17 Juli 2025 - 14:29 WIB

Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek

Berita Terbaru