Presiden: Miliki Sense of Crisis

- Pewarta

Kamis, 28 April 2022 - 11:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Joko Widodo. (Instagram.com/@sekretariat.kabinet)

Presiden Joko Widodo. (Instagram.com/@sekretariat.kabinet)

MEDIA EMITEN – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menekankan perlunya memiliki kewaspadaan terhadap krisis global atau sense of crisis yang kemungkinan masih berlanjut hingga 2023. Hal itu diungkapkan Presiden di depan para pengambil keputusan, termasuk para menteri.

“Semua kita harus memiliki sense of crisis. Jangan seperti biasanya, jangan business as usual, hati-hati. Sense of crisis harus ada di kita semuanya, sehingga kita harus ada perencanaan yang baik, skenario yang pas dalam menghadapi situasi yang tidak pasti ini,” kata Presiden Jokowi dalam sambutan pada Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) Tahun 2022 di Jakarta, Kamis 28 April 2022.

Menurut Presiden, semua negara, termasuk Indonesia, dihadapkan situasi yang tidak mudah, dimana kondisi ekonomi dan politik global mengalami gejolak yang penuh ketidakpastian.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tengah pandemi COVID-19 yang belum berakhir, kata Presiden, beberapa negara masih bergulat menekan penyebaran virus. Bahkan China masih melakukan karantina wilayah.

Pada saat bersamaan, perang geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang masih terjadi telah berdampak pada krisis energi dan pangan karena terhambatnya distribusi.

“Akhirnya inflasi global meningkat tajam dan pertumbuhan ekonomi global juga mengalami perlambatan,” kata Presiden Jokowi.

Turki menjadi negara dengan tingkat inflasi tertinggi yakni sebesar 61,1%, sementara Amerika Serikat sudah mencapai 8,5%. Inflasi Indonesia masih terjaga pada Maret 2022 sebesar 2,64%(year on year/ yoy).

Di tengah situasi yang tidak pasti itu, Presiden bersyukur perkembangan ekonomi Indonesia masih menunjukkan tren yang positif, seperti neraca perdagangan yang mengalami surplus sebesar US$ 3,82 miliar pada Februari 2022 dan US$ 4,5 miliar pada Maret 2022.

Seentara itu, kredit perbankan juga tumbuh dari 5,79% pada Januari 2022 menjadi 6,33% pada Februari 2022. “Saya kira angka-angka seperti ini harus kita jaga, momentum tren positif pertumbuhan ekonomi juga harus kita jaga,” kata Presiden Jokowi.

Berita Terkait

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama
FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025
Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?
Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan
Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek
Kasus Jiwasraya: Tanah Benny Tjokro Bogor Dilelang, Negara Kumpulkan Rp18 M
ICC Singapura Jadi Arena Gugatan Kontrak Satelit: Indonesia Siapkan Bukti Lengkap Lawan Detenté Operation
TRUE Optimistis Proyek District East Meningkatkan Laba dan Valuasi Aset

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:53 WIB

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama

Kamis, 14 Agustus 2025 - 11:43 WIB

FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025

Jumat, 1 Agustus 2025 - 07:16 WIB

Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?

Senin, 28 Juli 2025 - 09:59 WIB

Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan

Kamis, 17 Juli 2025 - 14:29 WIB

Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek

Berita Terbaru