MEDIA EMITEN – Harga minyak ditutup menguat pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB) menyusul rendahnya persediaan minyak mentah AS dan impor minyak mentah yang kuat oleh Tiongkok.
Harga minyak Brent berjangka September naik 18 sen atau 0,2% menjadi US$ 79,64 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS Agustus naik 28 sen atu 0,4% menjadi US$ 75,63 per barel.
Data ekonomi yang kuat, lapangan kerja yang rendah, dan inflasi yang lebih dingin telah mendukung permintaan minyak AS tahun ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin lagi ke kisaran 5,25%-5,50% pada pekan depan. Diperkirakan kenaikan tersebut menjadi yangterakhir kalinya dalam siklus pengetatan suku bunga ini.
“Meskipun ekonomi AS terbukti jauh lebih kuat dari yang diharapkan dalam mendukung Dow Jones Industrial Average, kekuatan baru-baru ini tampaknya rentan terutama jika Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 poin minggu depan,” kata John Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois.
Sementar itu,Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan Badan Energi Internasional mengatakan permintaan Tiongkok diperkirakan akan terus meningkat pada paruh kedua tahun ini dan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan global.
Impor minyak mentah Tiongkok dari Rusia mencapai level tertinggi sepanjang masa pada bulan Juni. Data pemerintah Tiongkok menunjukkan pada Kamis 20 Jul 2023, bahkan ketika diskon terhadap tolok ukur internasional menyempit.







