MEDIA EMITEN – Pasar saham Wall Street seakan kejatuhan bom pada penutupan perdagangan akhir pekan (Sabtu pagi WIB). Tiga indeks utama saham di bursa AS tersebut ambyar, jatuh lebih dari 2,5%.
DJIA turun 2,82%. S&P 500 terkikis 2,77%, dan saham teknologi, Nasdaq anjlok 2,55%. CBOE Volatility Index – VIX – indikator perkiraan volatilitas 30 hari ke depan, terbang naik 19,5%, Jumat lalu.
Menurut mantan Dirut PT Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein Mahmud, ada tiga bom membuat kerontokan harga saham. Inflasi yang menggila, kemungkinan kenaikan tingkat bunga yang tajam (Sidang FOMC Mei sudah diindikasikan naik 50 basis point, pada sidang Juni mungkin lebih besar) dan dan kinerja emiten yang mengecewakan periode 1Q22.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menjelaskan, sektor finansial adalah sektor yang nyaris completely borderless. Contagion menyebar lebih cepat dari virus corona. Inflasi global yang tinggi, akan mengalir ke sini. Sebelum keputusan tingkat bunga naik, yield obligasi – termasuk SUN – sudah berreaksi. Menguatnya USD langsung berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi global.
“Tak mudah membalikkan situasi. Masyarakat investor harus berantisipasi untuk berhadapan dengan situasi itu dalam waktu relatif lama: hot inflation, climbing interest rate, mounting bond yield, high volatility and tight liqiudity,” kata Hasan Zein yang juga menjadi mentor komunitas Investa.
Mnurut dia, ada sejumlah strategi investasi yang bisa dipertimbangkan menghadapi situasi ini. Berikut beberapa stratebi yang bisa dipertimbangkan:
[1] Boleh dipertimbangkan untuk kembali ke investasi konvensional, aset non finansial: tanah, real estat, benda seni. Tentu hanya bagi mereka yang faham dan punya uang cukup.
Baca Juga:
Dahua Technology Luncurkan Laporan ESG 2025: Dorong Pembangunan Berkelanjutan lewat Inovasi Digital
CGTN: Awal yang Solid dalam Repelita Ke-15 Tiongkok, Apa Maknanya?
[2] Investasi finansial, coba formula 40/20/40. Empatpuluh persen kas, 20% surat utang dan 40% saham.
[3] Pilihan sektor saham masih cukup banyak tersedia. Sektor telekomunikasi, sektor defensif dan utilitas. sektor energi, sektor logam dasar dan CPO.
Rusia merupakan eksportir terbesar gas alam. Eksportir urutan ke 3 minyak bumi, di belakang AS dan AS (Amerika serikat dan Arab Saudi). Eksportir urutan ke 3 batubara, di belakang Indonesia dan Australia.
Perkiraan Harga Minyak
Baca Juga:
Hisense Berkolaborasi dengan “Phantom Blade Zero”, Hadirkan Pengalaman Gim RGB Generasi Baru
Hikvision Umumkan Kinerja Keuangan Periode 2025 dan Triwulan I-2026
TOKOH PENDIDIKAN GLOBAL BERKUMPUL DI SINGAPURA DALAM KONFERENSI PENTING YANG MEMBAHAS PERAN AI
Menurut perkiraan Hasan Zein, minyak bumi akan bertahan di atas USD 100 per barrel dalam waktu lama dan batubara tidak akan turun di bawah USD 200 per mt hingg tahun depan. Pada saat China lock-down saja, harga minyak bumi bertahan di atas USD 100. (China importir mintak bumi terbesar dunia).
Ia juga memperhatikan spread harga CPO dan minyak makan (edible oil) yang lain kini semakin lebar. “Boleh jadi karena Rusia dan Ukraina juga merupakan produsen utama minyak matahari. Karena itu Harga CPO, menurut perkiraan saya, akan tetap tinggi untuk jangka yang cukup lama,” katanya.
Apalagi kalau larangan ekspor CPO Indonesia berlangsung cukup lama. Harga CPO bisa tumbuh sayap. “Tapi buat apa harga selangit kalau kita tidak boleh menjual? 70% CPO kita mau dibikin jadi apa,” tanyanya.








