Harga Minyak Menguat, Rusia Akan Pangkas Pasokan

- Pewarta

Jumat, 24 Februari 2023 - 08:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: Pipa angguk untuk eksplorasi minyak/Dok.

Foto ilustrasi: Pipa angguk untuk eksplorasi minyak/Dok.

MEDIA EMITEN – Harga minyak menguat 2% lebih tinggi pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), di tengah ekspektasi pemotongan tajam untuk produksi Rusia bulan depan. Namun dolar yang lebih kuat dan lonjakan persediaan AS yang lebih tajam dari perkiraan mewarnai sentimen.

Minyak mentah berjangka Intermediate West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April naik US$ 1,44 atau 2% menjadiUS$ 75,39 per barel di New York Mercantile Exchange.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April menguat US$ 1,61 atau 2% menjadi US$ 82,21 per barel di London ICE Futures Exchange, dibandingkan dengan sekitar US$ 98 per barel menjelang invasi Rusia ke Ukraina setahun lalu.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Harga minyak mendapat dorongan awal dari rencana Rusia untuk memotong ekspor minyak dari pelabuhan-pelabuhan barat hingga 25% pada Maret, melebihi pengurangan produksi yang diumumkan sebesar 500.000 barel per hari.

Sementara dolar yang lebih kuat tetap menjadi hambatan jangka pendek untuk minyak mentah, analis UBS mengatakan mereka memperkirakan produksi Rusia yang lebih rendah dan pembukaan kembali China akan memperketat pasar minyak dan mendukung harga.

Indeks dolar naik untuk sesi ketiga berturut-turut, setelah risalah dari pertemuan Federal Reserve AS terbaru menunjukkan mayoritas pejabat Fed setuju bahwa risiko inflasi tinggi menjamin kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Greenback yang lebih kuat membuat minyak berdenominasi dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, menekan permintaan. Kedua harga acuan minyak kehilangan lebih dari dua dolar AS di sesi sebelumnya setelah rilis risalah Fed.

Harga minyak juga berada di bawah tekanan setelah data pemerintah AS menunjukkan persediaan minyak mentah negara itu naik untuk kesembilan kalinya berturut-turut pekan lalu, memicu kekhawatiran permintaan.

Stok minyak mentah AS naik 7,6 juta barel dalam sepekan hingga 17 Februari, Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan Kamis (23/2/2023), lebih dari tiga kali lipat ekspektasi para analis untuk kenaikan 2,1 juta barel.

“Sehubungan dengan tekanan yang datang dari Federal Reserve pada permintaan dan cuaca yang menghangat di AS dan Eropa, ada kekhawatiran menyeluruh tentang sisi permintaan,” kata Tony Headrick, analis pasar energi di CHS Hedging.

Berita Terkait

Panduan Cara Memahami Bisnis Bitcoin dan Cara Membelinya
PT STM Sukseskan MotoGP Mandalika 2025, Sediakan Helikopter untuk Transportasi dan Evakuasi Medis
RIIFO Indonesia Memperkenalkan RIIFO Design & RIIFO Care, Solusi Inovatif untuk Industri Perpipaan
Ketahui Fungsi Platform Payment di Indonesia, Mudah dan Aman untuk Transaksi Bisnis
Mega Jaya, Lebih dari Sekadar Distributor Lifting Equipment
Nikmati Liburan dengan Rental Mobil Bandung Lepas Kunci
Perkuat Struktur Pendanaan Jangka Panjang, BRI Fokus Himpun Dana Murah
BRImo Siap Layani Kebutuhan Transaksi Finansial Kapan Saja, Liburan Lebih Tenang

Berita Terkait

Sabtu, 8 November 2025 - 04:56 WIB

Panduan Cara Memahami Bisnis Bitcoin dan Cara Membelinya

Rabu, 8 Oktober 2025 - 10:55 WIB

PT STM Sukseskan MotoGP Mandalika 2025, Sediakan Helikopter untuk Transportasi dan Evakuasi Medis

Senin, 22 September 2025 - 17:21 WIB

RIIFO Indonesia Memperkenalkan RIIFO Design & RIIFO Care, Solusi Inovatif untuk Industri Perpipaan

Jumat, 19 September 2025 - 21:34 WIB

Ketahui Fungsi Platform Payment di Indonesia, Mudah dan Aman untuk Transaksi Bisnis

Jumat, 12 September 2025 - 07:09 WIB

Mega Jaya, Lebih dari Sekadar Distributor Lifting Equipment

Berita Terbaru

Pers Rilis

ABC Impact Luncurkan “2025 Impact Review”

Rabu, 29 Apr 2026 - 10:22 WIB