MEDIA EMITEN – Harga emas ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), bertengger di level tertinggi delapan bulan di tengah spekulasi bahwa laporan inflasi AS yang akan dirilis dalam 24 jam ke depan akan mendorong Federal Reserve memperlambat kenaikan suku bunganya.
Harga emas juga didorong jatuhnya dolar AS terhadap mata uang utama lainnya, dengan euro sempat mencapai level tertinggi tujuh bulan terhadap dolar tetapi bertahan dalam kisaran sempit karena pedagang menghindari membuat pergerakan besar menjelang data inflasi AS.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di Divisi Comex New York Exchange naik US$ 2,40 atau 0,13% menjadi US$ 1.878,90 per ounce, setelah diperdagangkan mencapai level tertinggi sesi di US$ 1.890,90 dan terendah US$ 1.870,90.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Reli emas bertepatan dengan kenaikan saham di Wall Street karena para pedagang di seluruh pasar bertaruh pada penurunan angka inflasi yang cukup besar dari laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang akan dirilis pada Kamis waktu setempat.
Pembacaan IHK Desember akan menentukan apakah Federal Reserve akan terus menurunkan kenaikan suku bunganya pada pertemuan kebijakan 1 Februari. Para pedagang memperkirakan nada kurang hawkish dari Federal Reserve dalam kebijakan moneternya.
Emas juga mendapat dukungan, karena pencabutan pembatasan COVID-19 China dan pembukaan kembali ekonomi dapat meningkatkan permintaan.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret turun 18,4 sen atau 0,78% menjadi US$ 23,481 per ounce. Platinum untuk pengiriman April merosot US$ 4,2 atau 0,39% menjadi US$ 1.084,30 per ounce.






