MEDIA EMITEN – Harga emas kembali naik pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), dekati US$ 2.000 per ounce, setelah aksi ambil untung sehari sebelumnya.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April di divisi Comex New York Exchange, naik US$ 8,50 atau 0,44% menjadi ditutup pada US$ 1.949,60 per ounce, setelah diperdagangkan menyentuh level tertinggi sesi di US$ 1.970,00 per ounce.
Investor mencerna kenaikan suku bunga 25 basis poin oleh Federal Reserve, serta proyeksi Fed yang hanya menyerukan satu kenaikan lagi tahun ini. Selain itu, bank sentral menghapus frasa “peningkatan berkelanjutan” pada pernyataannya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Komite akan memantau dengan cermat informasi yang masuk dan menilai implikasinya terhadap kebijakan moneter,” kata pernyataan pasca-pertemuan FOMC.
“Kondisi keuangan tampaknya semakin ketat,” kata Ketua Fed Jerome Powell dikutip CNBC International.
Powell menegaskan, bahwa pertarungan inflasi masih jauh dari selesai.
Sementara dolar melemah, membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang asing.
Baca Juga:
WEPACK 2027 Kembali Digelar di Shanghai, Satukan Seluruh Rantai Industri Kemasan
DBS Group Raih Gelar Bank Teraman di Asia untuk ke-18 Tahun Berturut-turut
Sungrow Hadirkan Solusi Microgrid Terintegrasi untuk Sektor Komersial dan Industri di Asia Tenggara
Sementara itu, harga logam mulai lainnya mayoritas juga naik dengan perak menguat 1,61% menjadi US$ 22,786, tertinggi sejak Februari. Platinum naik 1,45% menjadi US$ 982,78 dan paladium menguat 4% menjadi US$ 1.443,59.







