Gubernur BI : Jangan Lihat Kalau Rp15 Ribu Sudah Kiamat

- Pewarta

Rabu, 3 Oktober 2018 - 09:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mediaemiten.com, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan jangan melihat kalau nilai tukar (kurs) rupiah mencapai Rp15 ribu per dolar itu sudah kiamat dan menilai perlemahan rupiah terhadap dolar AS bukan merupakan hal yang mengkhawatirkan, karena juga dialami oleh mata uang negara-negara berkembang lainnya.

“Jangan kita lihat kalau (kurs rupiah) Rp15 ribu sudah kiamat. Kita bandingkan dulu dengan semua negara yang mengalami tekanan depresiasi,” ujar Perry saat mengisi seminar di Jakarta, Rabu (3/10/2018).

Baca juga: BI optimistis tekanan rupiah mereda pada 2019

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perry mengingatkan fenomena perlemahan mata uang ini tidak hanya dialami oleh Indonesia, namun juga negara-negara berkembang lainnya.

Hal tersebut terlihat dari depresiasi mata uang yang terjadi di negara-negara seperti Turki, Brasil, Afrika Selatan, India dan Filipina yang memiliki kondisi perekonomian sama seperti Indonesia.

“Tingkat pelemahan rupiah sejak akhir Desember 2017 sampai sekarang 9,82 persen, bandingkan dengan Turki 37,7 persen, Brasil 17,6 persen, Afrika Selatan 13,8 persen dan India 12,4 persen,” ujarnya.

Untuk itu, ia menegaskan perlemahan mata uang merupakan fenomena global yang terjadi karena respon pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS serta potensi terjadinya perang dagang.

Perry memastikan salah satu upaya jangka menengah panjang yang bisa dilakukan untuk menahan perlemahan rupiah adalah dengan memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan.

Perbaikan neraca transaksi berjalan yang mengalami defisit tidak terlalu krusial dalam keadaan ekonomi normal, namun menjadi mendesak dalam keadaan penuh gejolak.

“Ini yang membuat kita tidak bisa dibandingkan dengan Thailand, karena mereka mempunyai surplus neraca transaksi berjalan hingga 54 miliar dolar AS, sehingga mata uangnya relatif stabil,” ujarnya.

Perry menyakini perbaikan defisit neraca transaksi berjalan ini dapat membuahkan hasil dan membantu menekan pergerakan rupiah terhadap dolar AS di 2019. (sat)

Berita Terkait

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama
FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025
Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?
Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan
Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek
Kasus Jiwasraya: Tanah Benny Tjokro Bogor Dilelang, Negara Kumpulkan Rp18 M
ICC Singapura Jadi Arena Gugatan Kontrak Satelit: Indonesia Siapkan Bukti Lengkap Lawan Detenté Operation
TRUE Optimistis Proyek District East Meningkatkan Laba dan Valuasi Aset

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:53 WIB

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama

Kamis, 14 Agustus 2025 - 11:43 WIB

FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025

Jumat, 1 Agustus 2025 - 07:16 WIB

Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?

Senin, 28 Juli 2025 - 09:59 WIB

Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan

Kamis, 17 Juli 2025 - 14:29 WIB

Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek

Berita Terbaru

Pers Rilis

ABC Impact Luncurkan “2025 Impact Review”

Rabu, 29 Apr 2026 - 10:22 WIB