MEDIA EMITEN -Harga emas bejangka menguat paa akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), memperpanjang kenaikan untuk sesi kedua berturut-turut, karena dolar AS melemah jelang rilis data inflasi yang dapat menentukan tindakan The Fed dalam beberapa minggu mendatang.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus di divisi Comex New York Exchange naik U$ 4,2 atau 0,22% menjadi US$ 1.933,80 per ounce, setelah menyentuh level tertinggi sesi di US$ 1.943,40 dan terendah di US$ 1.931,10 per ounce.
Emas turun lebih dari 2% minggu lalu dan merosot 2,6% selam bulan ini. Meskipun demikian, emas masih naik lebih dari 5% dalam tahun ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Indeks dolar turun 0,049% pada 102,680, dengan permintaan safe-haven membantu mempertahankannya di dekat angka yang tidak berubah karena kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi global bertahan di tengah tindakan pengetatan agresif oleh beberapa bank sentral utama dunia.
Investor akan mendapatkan sinyal baru tentang kemungkinan jalur suku bunga pada Jumat (30/6/2023) dengan rilis data Mei tentang indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi, pengukur inflasi pilihan Federal Reserve.
Tetapi dengan bank sentral dari Fed hingga Bank Sentral Inggris dan Bank Sentral Eropa mengincar lebih banyak kenaikan suku bunga, dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS dapat melihat lonjakan baru pada titik pertengahan tahun, sehingga membebani emas.
Investor juga khawatir tentang ketegangan geopolitik yang keluar dari Rusia setelah Yevgeny Prigozhin dituduh mencoba memulai pemberontakan bersenjata, yang mendukung emas.
Baca Juga:
CMEF 2026 Resmi Ditutup di Shanghai, Tampilkan Inovasi Medis Global dan Tren Industri Masa Depan
Terbitkan Laporan ESG 2025, Hikvision Dorong Pembangunan Berkelanjutan Lewat “Tech for Good”
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Juli naik 47,20 sen atau 2,11% menjadi ditutup pada US$ 22,826 per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli meningkat US$ 4,9 atau 0,53% menjadi US$ 928,60 per ounce.







