MEDIA EMITEN – PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) diduga telah memanipulasi laporan keuangan karena tidak sesuai dengan kondisi riil. Arus kas negatif bertahun-tahun, tetapi emiten BUMN karya itu melaporkan untung.
Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan, tata kelola keuangan beberapa BUMN Karya menjadi isu, salah satunya laporan keuangan WIKA. Menurutnya, laporan keuangan perseroan tidak mencerminkan kondisi aslinya.
“Artinya, dilaporkan seolah-olah untung bertahun-tahun. Padahal, cash flow-nya tidak sesuai dengan kondisi riil,” ujarnya di Jakarta, yang dikutip pada Selasa 6 Juni 2023.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah isu negatif, harga saham WIKA pada perdagangan Selasa justru meroket, naik 16,75% ke level Rp 460. Katalisnya, WIKA akan mendapat suntikan modal pemerintah, yakni PNM sebesar Rp 8 triliun.
Sebelumnya, Menteri BUMN, Erick Thohir mengatakan, PMN Wijaya Karya sebenarnya telah diusulkan pada 2023. Namun, Kementerian BUMN mengikuti kebijakan dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) agar PMN tersebut masuk pada anggaran 2024.
Selain WIKA, dugaan manipulasi laporan keuangan juga menyeret PT Waskita Karya Tbk (WSKT).Menurut Kartika Wirjoatmodjo, pihaknya tengah melakukan investigasi terhadap laporan keuangan tersebut. “Jadi, WIKA belum (diinvestigasi). Waskita yang kita lagi investigasi,” jelas Wamen BUMN.
Merespons isu soal dugaan manipulasi laporan keuangan tersebut, Corporate Secretary WIKA Mahendra Vijaya menuturkan, perseroan menyerahkan kewenangan tersebut sepenuhnya kepada Kementerian BUMN selaku pemegang saham seri A perseroan.
Baca Juga:
Asian Beach Games ke-6 di Sanya Resmi Berakhir, Tim China Menempati Posisi Teratas Klasemen Medali
Namun, Mahendra menegaskan bahwa perseroan selalu mengacu pada ketentuan perundangan yang berlaku dalam hal penyusunan laporan keuangan.
“Kami berupaya penuh untuk menyesuaikan dengan kaidah-kaidah akuntansi yang berlaku di Indonesia dan setiap laporan keuangan perseroan diaudit oleh Kantor Akuntan Publik sebagai Auditor Independen,” kata Mahendra.
Sebelumnya, Lembaga pemeringkat efek, Pefindo, menurunkan peringkat PT Wijaya Karya Tbk ( WIKA)untuk obligasi berkelanjutan (SR) I, II, III, dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I, II, III menjadi idBBB dari idA dengan outlook negatif dari positif. Peringkat baru itu berlaku sejak 25 Mei hingga 1 Juli 2023.
Analis Pefindo menjelaskan, profil keuangan WIKA yang lemah, seperti yang ditunjukkan oleh struktur permodalan yang sangat agresif dan likuiditas yang lemah untuk memenuhi kewajiban utang jangka pendek yang akan jatuh tempo.
Baca Juga:
CMEF 2026 Resmi Ditutup di Shanghai, Tampilkan Inovasi Medis Global dan Tren Industri Masa Depan
Terbitkan Laporan ESG 2025, Hikvision Dorong Pembangunan Berkelanjutan Lewat “Tech for Good”
Menurut dia, hal tersebut disebabkan siklus kas operasi WIKA yang memanjang dan belanja modal yang tinggi dari investasinya, sehingga sangat bergantung pada dana eksternal untuk membiayai kegiatan konstruksinya.
Outlook Negatif mencerminkan pandangan Pefindo terhadap risiko pembayaran utang WIKA yang meningkat karena fleksibilitas keuangan yang lebih terbatas . Hal itu dipicu oleh profil keuangan yang lebih lemah dan sentimen pasar yang negatif terhadap sektor konstruksi.








