Defisit Anggaran AS Meningkat ke Tertinggi Enam TahunRiyal Saudi Jatuh ke Terendah Dua Tahun karena Kasus Khashoggi

- Pewarta

Selasa, 16 Oktober 2018 - 06:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mata uang Arab Saudi, riyal.

Mata uang Arab Saudi, riyal.

Mediaemiten.com, Dubai – Mata uang Arab Saudi, riyal, jatuh ke level terendah dalam dua tahun dan harga obligasi internasionalnya merosot pada Senin (15/10/2081), karena kekhawatiran bahwa arus masuk investasi asing dapat menyusut ketika Riyadh menghadapi tekanan atas hilangnya jurnalis Jamal Khashoggi.

Perdagangan di pasar mata uang berjangka, yang digunakan oleh bank untuk melakukan investasi lindung nilai, menunjukkan beberapa lembaga melindungi diri mereka terhadap risiko arus keluar modal atau sanksi-sanksi AS terhadap Riyadh setelah hilangnya Khashoggi, seorang kritikus terkemuka terhadap pemerintah Saudi, di Istanbul.

Tetapi pergerakan pasar lebih kecil daripada beberapa ketidakstabilan dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan investor tidak begitu panik oleh kasus Khashoggi seperti mereka oleh penurunan harga minyak yang dimulai pada 2014.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Presiden AS Donald Trump mengancam “hukuman berat” untuk Riyadh jika ternyata Khashoggi tewas di konsulat Saudi di Instanbul, seperti yang dituduhkan pejabat Turki. Arab Saudi membantah ini dan pada Minggu (14/10) memperingatkan akan menandingi sanksi apa pun dengan sanksi yang lebih besar.

Harga minyak hanya bergerak sedikit pada Senin (15/10) karena para analis mengatakan mereka meragukan Arab Saudi, pengekspor minyak mentah terbesar dunia, akan berisiko isolasi internasional dan merusak keuangannya sendiri dengan mengurangi ekspor pada saat kerajaan itu mendorong reformasi yang dirancang untuk menciptakan lapangan kerja dan diversifikasi ekonomi.

Tapi Krisjanis Krustins, direktur tim Timur Tengah dan Afrika di lembaga pemeringkat kredit Fitch, mengatakan peristiwa itu bisa merugikan beberapa bagian dari program reformasi.

“Jika ada perubahan kekal dalam keinginan investor untuk terlibat dengan Arab Saudi, itu bisa menyebabkan beberapa implementasi inisiatif Visi 2030 lebih lambat dan kurang lengkap, dan dibutuhkan penggunaan utang dan sumber daya internal yang lebih besar bagi Arab Saudi untuk pembiayaannya,” kata dia.

Riyal dikutip pada 3,7524 terhadap dolar AS di pasar spot pada Senin (15/10) pagi, tingkat terlemahnya sejak September 2016, data Refinitiv menunjukkan.

Bank sentral mempertahankan patokan 3,75 riyal terhadap dolar AS, dan biasanya mata uang berfluktuasi dalam kisaran sekitar 3,7498-3,7503. Pada November 2015, ketika harga minyak jatuh, riyal turun ke serendah 3,7598.

Di pasar forward, dolar AS naik pada Senin (15/10) setinggi 100 poin terhadap riyal, tertinggi sembilan bulan, dari 54 poin pada Jumat (12/10). Pada 2016, secara singkat naik di atas 1.000 poin.

Imbal hasil pada obligasi dolar AS Arab Saudi naik, sebagian besar di ujung panjang kurva; obligasinya jatuh tempo pada 2046 adalah 15 basis poin lebih lebar.

Krustins dan analis lainnya mencatat bahwa arus investasi asing ke Arab Saudi sudah sangat rendah karena sektor swasta yang lemah dan ketidakpastian peraturan; ini dapat membatasi dampak dari pengurangan aliran.

Semakin banyak organisasi media dan eksekutif, termasuk kepala eksekutif JP Morgan Chase & Co Jamie Dimon, telah menarik diri dari konferensi investasi utama Riyadh yang dijadwalkan minggu depan, dijuluki “Davos di Gurun”.

Pasar saham Saudi telah jatuh 7,2 persen selama dua hari perdagangan sebelumnya karena kasus Khashoggi, tetapi “rebound” 2,0 persen pada Senin (15/10).

Para pedagang mengatakan beberapa investor institusional, termasuk investor asing, membeli saham di posisi terendah, percaya bahwa situasi fundamental ekonomi Arab Saudi tidak akan banyak berubah.

Tetapi banyak bankir dan analis mengatakan kasus Khashoggi telah memicu persepsi risiko politik di Arab Saudi, karena itu merupakan yang terbaru dalam serangkaian insiden tak terduga selama tiga tahun terakhir.

Selama periode ini Arab Saudi telah melancarkan perang di Yaman, memberlakukan embargo terhadap Qatar, menangkap puluhan pejabat tinggi dan pengusaha dalam pembersihan korupsi, menahan aktivis hak-hak perempuan dan melihat ketegangan dengan Kanada dan Jerman meningkat.

Jason Tuvey, ekonom senior emerging markets di Capital Economics yang berbasis di London, mengatakan perkembangan politik di Arab Saudi menjadi risiko ekonomi yang semakin penting. (ant)

Berita Terkait

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama
FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025
Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?
Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan
Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek
Kasus Jiwasraya: Tanah Benny Tjokro Bogor Dilelang, Negara Kumpulkan Rp18 M
ICC Singapura Jadi Arena Gugatan Kontrak Satelit: Indonesia Siapkan Bukti Lengkap Lawan Detenté Operation
TRUE Optimistis Proyek District East Meningkatkan Laba dan Valuasi Aset

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:53 WIB

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama

Kamis, 14 Agustus 2025 - 11:43 WIB

FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025

Jumat, 1 Agustus 2025 - 07:16 WIB

Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?

Senin, 28 Juli 2025 - 09:59 WIB

Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan

Kamis, 17 Juli 2025 - 14:29 WIB

Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek

Berita Terbaru