BI Optimistis Tekanan Rupiah Mereda pada 2019

- Pewarta

Rabu, 3 Oktober 2018 - 08:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo/Dok.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo/Dok.

Mediaemiten.com, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis tekanan terhadap mata uang rupiah akan mulai mereda pada 2019 seiring dengan tekanan global maupun domestik yang berkurang.

“Tekanan nilai tukar di tahun depan akan lebih mereda, tidak seberat tahun ini,” kata Perry saat mengisi seminar di Jakarta, Rabu (3/10/2018).

Perry menjelaskan salah satu alasan berkurangnya tekanan terhadap rupiah adalah karena kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS (The Fed) pada 2019 tidak sebanyak di 2018.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal ini bisa membuat pembalikan modal yang terjadi akibat penyesuaian suku bunga The Fed mulai berkurang dan menekan terjadinya pelemahan rupiah.

“Tahun ini kenaikan bunga terjadi empat kali, tahun depan hanya dua kali dan 2020 sekali. Ini yang bisa membuat ketegangan tidak berlanjut,” ujarnya.

Selain itu, alasan lain redanya tekanan terhadap rupiah pada 2019 karena para pemegang portfolio akan kembali menanamkan modal ke negara berkembang setelah kondisi global membaik.

“Investor global tidak mungkin terus memegang tunai. Mereka yang menarik dari negara berkembang, akan mulai kembali menaruh di negara berkembang termasuk Indonesia,” kata Perry. Ia menambahkan alasan lainnya adalah upaya pemerintah untuk memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan mulai memperlihatkan hasil pada 2019 dan ikut memperkuat fundamental perekonomian.

Perbaikan neraca transaksi berjalan yang mengalami defisit tidak terlalu krusial dalam keadaan ekonomi normal, namun menjadi mendesak dalam keadaan penuh gejolak.

“Karena ada langkah bersama untuk menurunkan defisit, maka neraca transaksi berjalan bisa menjadi lebih rendah. Inilah mengapa tekanan nilai tukar tidak seberat tahun ini,” ujar Perry. (sat)

Berita Terkait

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama
FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025
Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?
Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan
Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek
Kasus Jiwasraya: Tanah Benny Tjokro Bogor Dilelang, Negara Kumpulkan Rp18 M
ICC Singapura Jadi Arena Gugatan Kontrak Satelit: Indonesia Siapkan Bukti Lengkap Lawan Detenté Operation
TRUE Optimistis Proyek District East Meningkatkan Laba dan Valuasi Aset

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:53 WIB

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama

Kamis, 14 Agustus 2025 - 11:43 WIB

FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025

Jumat, 1 Agustus 2025 - 07:16 WIB

Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?

Senin, 28 Juli 2025 - 09:59 WIB

Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan

Kamis, 17 Juli 2025 - 14:29 WIB

Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek

Berita Terbaru

Pers Rilis

Thunes Luncurkan Pembayaran di Waktu Nyata ke Selandia Baru

Selasa, 21 Apr 2026 - 02:00 WIB