MEDIA EMITEN – Harga minyak mentah terpukul pada perdagangan Asia, Kamis (31/3/2022) dipicu oleh sentimen bahwa Amerika Serikat sedang mempertimbangkan pelepasan cadangan (inventory) hingga 180 juta bare, pelepasan cadangan terbesar dalam hampir 50 tahun sejarah SPR (Strategic Petroleum Reserve).
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei anjlok US$ 4,11 atau 3,6% menjadi US$ 109,34 per barel pada pukul 06.37 GMT. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Mei jatuh US$ 5,33 atau 4,9% menjadi US$ 102,49 per barel setelah menyentuh level terendah US$ 100,85 per barel.
Presiden AS Joe Biden akan memberikan komentar pada Kamis mengenai tindakan pemerintahannya yang bertujuan untuk menurunkan harga bensin yang telah naik ke rekor tertinggi sejak Rusia memulai invasi ke Ukraina.
Rilis seperti itu akan membantu pasar minyak untuk menyeimbangkan kembali pada 2022 dengan meningkatkan pasokan sebesar 1 juta barel per hari (bph) selama enam bulan, kata analis Goldman Sachs dalam sebuah catatan.
Negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) dijadwalkan bertemu pada Jumat (1/4/2022) pukul 12.00 GMT untuk memutuskan pelepasan minyak kolektif, juru bicara menteri energi Selandia Baru mengatakan pada Kamis.
Berita tentang potensi rilis AS membayangi pertemuan yang ditetapkan pada Kamis antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu termasuk Rusia. Kelompok yang dikenal sebagai OPEC+ diperkirakan akan tetap pada kesepakatannya untuk meningkatkan produksi minyak secara bertahap.
Pelepasan minyak AS bisa efektif dalam mengurangi volatilitas liar dan membatasi pergerakan ke atas yang tajam, tetapi harga membutuhkan solusi jangka panjang, kata Avtar Sandu, manajer komoditas di Phillip Futures.
Pada awal Maret, pemerintahan Biden mengatakan akan menjual 30 juta barel dari cadangan strategisnya sebagai bagian dari pelepasan global 60 juta barel untuk menurunkan harga. (LS)







