Dolar Melemah Setelah Data Pertumbuhan China di Atas Perkiraan

- Pewarta

Kamis, 18 April 2019 - 01:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mediaemiten.com, New York – Kurs dolar AS melemah terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Kamis pagi (18/4/2019), karena data pertumbuhan ekonomi China yang lebih baik dari perkiraan mendukung selera risiko dan sehari menjelang rilis data ekonomi yang diawasi ketat untuk zona euro.

Ekonomi China tumbuh pada kecepatan stabil 6,4 persen di kuartal pertama, bertentangan dengan ekspektasi untuk pelambatan lebih lanjut, karena produksi industri melonjak dan permintaan konsumen menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

“Sentimen risiko tampak telah membaik semalam didukung data China yang kuat,” kata Kepala Strategi FX Scotiabank, Shaun Osborne, di Toronto.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Investor mengamati dengan cermat data ekonomi China dan Eropa untuk sinyal bahwa pertumbuhan global mulai pulih.

Rilis Indeks Pembelian Manager (PMI) untuk sektor manufaktur dan jasa di Eropa pada Kamis waktu setempat, akan memberikan indikasi kekuatan ekonomi Eropa selanjutnya.

Aliran masuk investasi ke Eropa telah membaik, yang dapat memberikan dorongan bagi euro terhadap greenback.

“Kami berada di ujung atas kisaran untuk dolar dan kami pikir tekanan musiman akan mulai sedikit lebih menekan dolar ke depan. Secara umum ini adalah tentang sepanjang tahun ini ketika dolar mulai melemah dari sudut pandang musiman,” kata Osborne.

Dolar Australia melonjak karena data China sebelumnya mengembalikan keuntungan. Mata uang ini peka terhadap kekayaan ekonomi China, mitra dagang terbesar Australia.

Aussie melemah pada Selasa (16/4/2019) setelah bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) mengatakan bahwa pemotongan suku bunga akan “sesuai” jika inflasi tetap rendah dan tren pengangguran lebih tinggi.

Dolar Selandia Baru jatuh setelah data menunjukkan bahwa inflasi tahunan melambat pada kuartal pertama, yang meningkatkan kemungkinan penurunan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Data lain padai Rabu (17/4/2019) menunjukkan bahwa defisit perdagangan AS turun ke level terendah delapan bulan pada Februari karena impor dari China anjlok, untuk sementara memberikan dorongan bagi agenda America First Presiden Donald Trump dan pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama. Demikian laporan yang dikutip Reuters. (pep)

Berita Terkait

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama
FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025
Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?
Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan
Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek
Kasus Jiwasraya: Tanah Benny Tjokro Bogor Dilelang, Negara Kumpulkan Rp18 M
ICC Singapura Jadi Arena Gugatan Kontrak Satelit: Indonesia Siapkan Bukti Lengkap Lawan Detenté Operation
TRUE Optimistis Proyek District East Meningkatkan Laba dan Valuasi Aset
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:53 WIB

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama

Kamis, 14 Agustus 2025 - 11:43 WIB

FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025

Jumat, 1 Agustus 2025 - 07:16 WIB

Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?

Senin, 28 Juli 2025 - 09:59 WIB

Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan

Kamis, 17 Juli 2025 - 14:29 WIB

Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek

Berita Terbaru