MEDIA EMITEN – Harga emas menguat pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB) dan sempat menyetuh level psikologis US$ 2.000 per ounce, menyusul melemahnya lapangan kerja AS dan data manufaktur yang mengindikasikan jeda kenaikan suku bunga pada pertemuan Fed bulan ini.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus di divisi Comex New York Exchange, melonjak US$ 13,40 atau 0,68% menjadi US$ 1.995,50 per ounce, setelah menyentuh level tertinggi sesi di US$ 2.000,70 dan terendah di US$ 1.970,10.
Untuk minggu ini, emas melihat pengembalian 2,6%, terbesar sejak minggu hingga 10 Maret.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, mengalami penurunan satu hari terbesar sejak 10 Maret, tergelincir 0,7% ke level terendah sesi di 103,435.
Penurunan terjadi setelah laporan industri menunjukkan PHK di sektor teknologi, ritel, dan otomotif AS melonjak bulan lalu karena keseluruhan perekrutan berada di level terendah sejak 2016.
Dolar juga turun karena Patrick Timothy Harker, salah satu pembuat kebijakan Fed dan presiden Federal Reserve untuk wilayah Philadelphia, mengatakan pada Kamis (1/6/2023) bahwa bank sentral “setidaknya harus melewatkan kenaikan suku bunga pada Juni.”
Pasar sedang menunggu laporan pekerjaan bulanan yang akan dirilis Jumat, yang akan meletakkan dasar bagi aksi harga emas.
Baca Juga:
Terbitkan Laporan ESG 2025, Hikvision Dorong Pembangunan Berkelanjutan Lewat “Tech for Good”
For the Reasons that Matter: Kampanye Multi-Negara yang Menyoroti Kesehatan Pernapasan Dewasa
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Juli naik 40 sen atau 1,7% menjadi ditutup pada US$ 23,987 per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli naik US$ 11,10 dolar AS atau 1,11% menjadi US$ 1.010,10 per ounce.







