MEDIA EMITEN – Harga minyak bergejolak dan jatuh lebih dari 3% pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi WIB) tertekan penguatan dolar AS menyusul data sektor jasa AS menimbulkan kekhawatiran bahwa Federal Reserve dapat melanjutkan jalur pengetatan kebijakan agresifnya (hawkish).
Minyak mentah Brent berjangka turun US$ 2,89 atau 3,4% menjadi $82,68 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun US$ 3,05 atau 3,8% menjadi US$ 76,93 per barel.
Selama sesi, kontrak bulan depan WTI mulai diperdagangkan lebih rendah dari harga setengah tahun, struktur pasar yang disebut contango, yang menyiratkan kelebihan pasokan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Aktivitas industri jasa AS secara tak terduga meningkat pada bulan November, dengan ketenagakerjaan pulih kembali, menawarkan lebih banyak bukti tentang momentum yang mendasari ekonomi karena bersiap menghadapi resesi yang diantisipasi tahun depan.
Berita itu menyebabkan pasar minyak dan saham untuk memangkas keuntungan.
Sementara itu, dolar menguat semalam. Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, termasuk euro, yen dan pound sterling, naik 0,71% menjadi US$ 105,2920 pada pukul 15.00 waktu setempat (2000 GMT). Indeks dolar telah jatuh 1,4% minggu lalu, dan 5% pada November, bulan terburuk sejak 2010.
Data menantang harapan bahwa Fed dapat memperlambat kecepatan dan intensitas kenaikan suku bunga di tengah tanda-tanda inflasi surut.
Baca Juga:
Dari Budaya Etnik Li hingga Asian Beach Games: Sanya Tampilkan Identitas Budaya Sambut Tamu Asia
Dahua Technology Luncurkan Laporan ESG 2025: Dorong Pembangunan Berkelanjutan lewat Inovasi Digital
CGTN: Awal yang Solid dalam Repelita Ke-15 Tiongkok, Apa Maknanya?
Minyak menguat sebelumnya didukung oleh keputusan Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya termasuk Rusia (OPEC+) yang sepakat untuk tetap berpegang pada rencana Oktober mereka untuk memangkas produksi sebesar 2 juta barel per hari (bpd) dari November hingga 2023.
Negara-negara Kelompok Tujuh (G7) dan Australia pekan lalu menyepakati batas harga $60 per barel untuk minyak Rusia lintas laut. Namun, efek pembatasan harga di pasar berjangka selama sesi Senin kehabisan tenaga pada penghujung hari, kata Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates di Houston.
“Pasar telah menyadari bahwa UE telah melarang pembelian minyak Rusia dengan beberapa pengecualian terbatas, dan Tiongkok serta India akan melanjutkan dan membeli minyak mentah Rusia, sehingga dampak dari pembatasan harga akan dikurangi,” kata Lipow.
Pada saat yang sama, sebagai tanda positif untuk permintaan bahan bakar di importir minyak utama dunia, lebih banyak kota di Tiongkok melonggarkan pembatasan Covid selama akhir pekan.
Baca Juga:
ABC Impact Luncurkan “2025 Impact Review”
Hisense Berkolaborasi dengan “Phantom Blade Zero”, Hadirkan Pengalaman Gim RGB Generasi Baru
Hikvision Umumkan Kinerja Keuangan Periode 2025 dan Triwulan I-2026
Aktivitas bisnis dan manufaktur di Tiongkok, ekonomi terbesar kedua di dunia, tahun ini terpukul oleh langkah-langkah ketat untuk mengekang penyebaran virus corona.








