Wall Street Koreksi, Yield Obligasi AS Makin Tinggi

- Pewarta

Jumat, 21 Oktober 2022 - 07:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: Suasana bursa saham di Wall Street, AS/DOk

Foto ilustrasi: Suasana bursa saham di Wall Street, AS/DOk

MEDIA EMITEN – Tiga indeks utama saham di Wall Street kembali terkoreksi pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), tertekan oleh momentum lanjutan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang makin tinggi.

Indeks Dow Jones Industrial Average tergelincir 90,22 poin atau 0,3% menjadi 30.333,59 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 29,38 poin atau 0,8% menjadi 3.665,78 poin. Nasdaq Composite turun 65,67 poin atau 0,61% menjadi 10.614,84 poin.

Delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor utilitas dan industri masing-masing turun 2,51% dan 1,91% , memimpin penurunan. Sementara itu, sektor jasa-jasa komunikasi naik 0,36%, merupakan kelompok dengan kinerja terbaik.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang menjadi acuan melanjutkan kenaikannya ke atas 4,2% pada Kamis waktu AS, level tertinggi sejak 2008. Imbal hasil pada surat utang pemerintah 2-tahun yang sensitif terhadap kebijakan juga menguat.

Pasar ekuitas biasanya bergerak negatif dengan imbal hasil obligasi, karena imbal hasil obligasi yang lebih tinggi akan membuat investasi ekuitas menjadi kurang menarik.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan, semalam, bahwa klaim pengangguran awal negara itu, cara kasar untuk mengukur PHK, turun 12.000 menjadi 214.000 dalam pekan yang berakhir 15 Oktober. Para ekonom yang disurvei oleh The Wall Street Journal memperkirakan klaim baru menjadi total 230.000.

The Conference Board yang berbasis di New York mengatakan indeks ekonomi terkemuka AS turun 0,4% pada September dan lintasan penurunan yang terus-menerus dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan “resesi semakin mungkin terjadi sebelum akhir tahun.”


Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru

Pers Rilis

ABC Impact Luncurkan “2025 Impact Review”

Rabu, 29 Apr 2026 - 10:22 WIB