Wall Street Bervariasi, Nasdaq Masih Tertekan

- Pewarta

Rabu, 12 Oktober 2022 - 08:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: Pasar saham Wall Street. AS/Dok

Foto ilustrasi: Pasar saham Wall Street. AS/Dok

MEDIA EMITEN – Tiga indeks utama saham di Wall Street ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), dengan S&P 500 dan Nasdaq masih tertekan. Saham-saham teknologi masih melemah ketika investor berhati-hati menjelang data inflasi utama AS dan dimulainya laporan keuangan perusahaan kuartal ketiga akhir pekan ini.

Indeks Dow Jones Industrial Average terangkat 36,31 poin atau 0,12% menjadi 29.239,19 poin. Indeks S&P 500 terpangkas 23,55 poin atau 0,65% menjadi 3.588,84 poin. Nasdaq Composite anjlok 115,91 poin atau 1,1% menjadi 10.426,19 poin, terendah sejak Juli 2020.

S&P 500 dan Nasdaq turun untuk hari kelima berturut-turut. Indeks Dow berakhir lebih tinggi, dibantu oleh saham Amgen Inc yang melonjak 5,7% setelah laporan bahwa Morgan Stanley meningkatkan saham pembuat obat itu menjadi overweight dari equal weight.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor jasa-jasa komunikasi dan teknologi masing-masing tergelincir 1,63% dan 1,52%, memimpin penurunan. Sementara itu, sektor real estat menguat 1,02%, merupakan kelompok dengan kinerja terbaik.

“Tidak ada berita baru, selain ketakutan bahwa inflasi, dan kenaikan suku bunga Fed yang berkelanjutan, akan memperlambat ekonomi ke dalam resesi yang dalam,” kata Kevin Matras, wakil presiden eksekutif di Zacks Investment Research, dalam sebuah catatan.

Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase memperingatkan bahwa Amerika Serikat menuju resesi dalam enam hingga sembilan bulan ke depan dan saham-saham bisa meluncur lebih jauh.

Investor sedang menunggu serangkaian sorotan ekonomi akhir pekan ini, termasuk laporan indeks harga konsumen AS untuk September pada Kamis dan data penjualan ritel AS pada Jumat.

Saham-saham telah terpukul dalam beberapa pekan terakhir oleh kekhawatiran tentang seberapa agresif Fed mungkin masih perlu dengan kenaikan suku bunga dan potensi dampaknya terhadap ekonomi.

The Fed telah secara agresif menaikkan suku bunga untuk mengekang inflasi dan diperkirakan akan terus meningkat hingga tahun depan.

Menambah kekhawatiran baru-baru ini tentang ekonomi, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan 1,6 persen dalam ekonomi AS tahun ini.

Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru