MEDIA EMITEN – Harga minyak melonjak pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), di tengah ekspektasi penurunan besar produksi minyak mentah dari kelompok produsen OPEC+ dan karena dolar AS yang melemah.
Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember naik US$ 2,94 atau 3,3% menjadi US$ 91,8 per barel di London ICE Futures Exchange.
Reli dua hari terjadi karena para pedagang bertaruh bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang secara kolektif dikenal sebagai OPEC+, akan mempertimbangkan pengurangan produksi besar-besaran ketika bertemu pada Rabu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah itu akan menekan pasokan di pasar minyak yang menurut para eksekutif dan analis perusahaan energi sudah ketat karena permintaan yang sehat, kurangnya investasi dan masalah pasokan.
Sumber dari kelompok itu mengatakan OPEC+, yang mencakup Rusia, sedang membahas pengurangan produksi lebih dari 1 juta barel per hari (bph). Minyak memperpanjang kenaikan setelah Bloomberg melaporkan bahwa OPEC+ sedang mempertimbangkan pemotongan 2 juta barel per hari.
“Kami memperkirakan pemotongan substansial akan dilakukan, yang tidak hanya akan membantu memperketat fundamental fisik tetapi mengirimkan sinyal penting ke pasar,” kata Fitch Solutions dalam sebuah catatan seperti dikutip Reuters.
Menteri perminyakan Kuwait mengatakan OPEC+ akan membuat keputusan yang tepat untuk menjamin pasokan energi dan untuk melayani kepentingan produsen dan konsumen.
Baca Juga:
Dari Budaya Etnik Li hingga Asian Beach Games: Sanya Tampilkan Identitas Budaya Sambut Tamu Asia
Dahua Technology Luncurkan Laporan ESG 2025: Dorong Pembangunan Berkelanjutan lewat Inovasi Digital
CGTN: Awal yang Solid dalam Repelita Ke-15 Tiongkok, Apa Maknanya?
OPEC+ telah meningkatkan produksi tahun ini setelah rekor pemotongan diterapkan pada 2020 ketika pandemi memangkas permintaan. Pada awal September, aliansi minyak mengumumkan pengurangan produksi 100.000 barel per hari untuk Oktober untuk meningkatkan harga.
Juga mendorong harga minyak, dolar AS menuju kerugian harian kelima terhadap sekeranjang mata uang karena investor berspekulasi bahwa Federal Reserve AS mungkin memperlambat kenaikan suku bunganya.
“Tidak ada keraguan bahwa ada dukungan mendasar dari dolar yang lemah dan potensi poros Fed,” kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho di New York.







