MEDIA EMITEN – Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo menjelaskan perihal kinerja PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang mencatatkan laba bersih sebesar US$ 3,8 miliar atau setara Rp 57 triliun pada semester I-2022.
Menurut dia, perolehan laba bersih GIAA tersebut merupakan hasil dari pembalikan liabilitas atau utang setelah perseroan menuntaskan proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).
“Ada berita Garuda mencetak laba Rp 57 triliun. Sebenarnya itu laba buku karena itu ada pembalikan dari liabilitas setelah PKPU kemarin,” kata Kartika dalam konferensi pers, Kamis 29 September 2022.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menambahkan, sektor aviasi dan pariwisata termasuk dua sektor yang masih menghadapi tantangan saat pandemi Covid-19, lantaran menurunnya permintaan secara signifikan. Akibatnya, PT Angkasa Pura I dan II mencatatkan laba negatif tahun lalu.
Wamen BUMN menargetkan, persoalan keuangan yang dialami GIAA dan BUMN lainnya, seperti Jiwasraya, diharapkan dapat tuntas pada tahun ini. Sedangkan sektor lainnya yang masih menghadapi tantangan dalam jangka menengah adalah sektor konstruksi dan properti.
“Karena memang pasca Covid-19 ini ada dua isu pertama dari sisi leverage atau utang yang tinggi. Kedua jumlah kontrak-kontrak baru yang menurun. Ini yang menjadi tantangan dan kita terus melakukan perbaikan seperti di Waskita dan HK dan semoga terus bisa kita perbaiki ke depan,” katanya.







