MEDIA EMITEN – Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juli sebesar 123,2 yang mengindikasikan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga.
Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan, IKK ini tetap berada pada level optimis karena nilainya lebih tinggi dari 100, meski turun dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 128,2.
“Optimisme konsumen yang tetap terjaga tersebut ditopang oleh tetap kuatnya ekspektasi terhadap kondisi ekonomi ke depan, terutama ekspektasi terhadap penghasilan dan lapangan kerja,” katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin 8 Agustus 2022.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Keyakinan konsumen yang tidak setinggi dibandingkan bulan sebelumnya terpantau pada seluruh kategori pengeluaran, terutama pada responden dengan pengeluaran Rp 4,1 juta sampai Rp 5 juta per bulan.
Berdasarkan usia, tertahannya IKK Juli 2022 terindikasi pada sebagian besar kelompok responden, terutama pada responden dengan usia 31–40 tahun.
Adapun ekspektasi konsumen terhadap perkiraan kondisi ekonomi enam bulan ke depan terpantau tetap kuat, tercermin dari Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK) Juli 2022 sebesar 135,5, atau masih berada di level optimis yakni di atas 100, meski sedikit menurun dari 141,8 pada Juni.
“Tetap kuatnya ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan terutama ditopang oleh ekspektasi terhadap penghasilan yang menurun 2,4 poin menjadi 138,3 pada Juli 2022.
Sementara itu, ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan ke depan dan ekspektasi terhadap kegiatan usaha ke depan juga masih terjaga pada level optimis meski masing-masing turun sebesar 8,7 dan 8,0 poin menjadi 134,5 dan 133,5,” katanya.
Survei BI juga rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi terpantau menurun pada Juli 20220, sebagaimana tampak dari rata-rata proporsi pendapatan untuk konsumsi yang menurun menjadi 73,4% dari semula 74,2%.
Sementara itu, rata-rata proporsi pembayaran cicilan atau utang (debt to income ratio) sama seperti bulan sebelumnya 9,6%, tidak jauh berbeda dari 9,7% pada bulan sebelumnya, dan proporsi pendapatan konsumen yang disimpan meningkat dari 16,2% menjadi 17% persen.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, rata-rata porsi konsumsi terhadap pendapatan terpantau menurun pada sebagian kategori pengeluaran, kecuali pada responden dengan tingkat pengeluaran Rp 2,1 sampai Rp 3 juta dan Rp 3,1 juta sampai Rp 4 juta.
“Sementara itu, peningkatan porsi tabungan terhadap pendapatan tercatat pada responden dengan tingkat pengeluaran Rp1–2 juta dan Rp2,1–3 juta per bulan,” katanya.







