MEDIA EMITEN – Realisasi pendapatan negara mencapai Rp 501 triliun per Maret 2022 dari target APBN Rp 1.846,1 triliun atau meningkat 32,1% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp379,4 triliun.
“Kita lihat growth nya pada Februari 37%, sekarang 32%. Ini agak sedikit melemah tapi masih cukup tinggi,” kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Rabu, 20 April 2022.
Realisasi pendapatan negara meliputi penerimaan perpajakan Rp 401,8 triliun yang meningkat 38,4% dari Rp 290,4 triliun Maret 2021 serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp 99,1 triliun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penerimaan perpajakan ini terdiri atas penerimaan pajak Rp 322,5 triliun, naik 41,4% dari periode sama tahun lalu Rp 228,1 triliun. Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai Rp79,3 triliun yang juga naik 27,3% dari Rp 62,3 triliun.
Realisasi penerimaan pajak Rp 322,5 triliun yang merupakan 25,49% dari target Rp1.265 triliun ini secara rinci meliputi PPh non-migas Rp172,09 triliun atau 27,16% dari target serta PPN dan PPnBM Rp130,15 triliun atau 23,48% dari target.
Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan pajak lainnya Rp 2,29 triliun atau 7,69% dari target, sedangkan PPh Migas Rp17,94 triliun atau 37,91% dari target.
Kinerja penerimaan pajak hingga Maret ini ditopang oleh pemulihan ekonomi yang terlihat dari PMI Manufaktur yang baik dan ekspansif, harga komoditas serta ekspor dan impor.
Baca Juga:
Solusi Cerdas Berorientasi Global dari Tianjin: Membawa Teknologi Mutakhir ke Kehidupan Sehari-hari
Pertumbuhan penerimaan pajak pada Maret yang mencapai 41,4% ini selain karena low based effect dari Maret 2021 juga karena pergeseran sebagian penerimaan Februari ke Maret akibat tiga hari terakhir Februari jatuh pada hari libur.
Pertumbuhan juga akibat peningkatan impor dan Program Pengampunan Sukarela (PPS) sehingga jika tanpa pergeseran hari libur maka penerimaan Februari tumbuh 22,3% dan Maret tumbuh 45,4%.
Untuk penerimaan PNBP sebesar Rp 99,1 triliun yang naik 11,8% (yoy) dari Rp 88,6 triliun dan merupakan 29,5% dari target Rp 335,6 triliun didukung oleh meningkatnya pendapatan Kekayaan Negara Dipisahkan (KND). Pendapatan KND sampai Maret tumbuh 0,4% dari target APBN karena mulai adanya setoran dividen daru salah satu BUMN perbankan.
Baca Juga:






