BI Masih Intervensi Pasar untuk Stabilkan Rupiah

- Pewarta

Jumat, 14 September 2018 - 08:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mediaemiten.com, Jakarta – Bank Indonesia masih melangsungkan kombinasi kebijakan moneter termasuk intervensi pasar agar nilai tukar rupiah bergerak ke rentang fundamentalnya, meskipun dalam beberapa hari terakhir bergerak dalam tren menguat di level Rp14.800.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo di Kantor Pusar BI, Jakarta, Jumat (14/9/2018), mengatakan Bank Sentral melihat tekanan ekonomi eksternal masih membayangi pergerakan nilai tukar rupiah.

BI, ujarnya, terus mewaspadai tekanan ekonomi eksternal dengan melancarkan intervensi ganda dan juga mempertimbangkan opsi kenaikan suku bunga acuan. “Kami masih kombinasi dari situ. Jadi kalau kami masih intervensi artinya kami masih lihat dulu rupiah belum stabil,” kata Dody.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Intervensi ganda BI dilakukan di pasar valuta asing dan di pasar Surat Berharga Negara (SBN), di mana Bank Sentral membeli SBN yang dilepas investor asing di pasar sekunder.

Pernyataan Dody muncul di tengah tren penguatan rupiah, namun Dody menyebutkan nilai tukar belum sesuai fundamentalnya.

Penguatan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir banyak disebabkan tekanan ekonomi global yang mereda dan nilai dolar AS yang melemah.

Berkurangnya tekanan global itu juga berhasil membawa modal asing kembali ke instrumen keuangan Surat Berharga Negara pemerintah.

“Walaupun secara nett masih ada dana keluar. Tapi beberapa hari ini sudah mulai masuk,” katanya.

Dody tidak memungkiri bahwa Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang, masih dihadapkan pada potensi-potensi gejolak perekonomian global.

Sumber gejolak yang paling sulit dikalkulasi adalah perang dagang global antara Negara Paman Sam dan China yang terus berkelindan dan memicu aksi retaliasi (pembalasan) satu sama lain.

Selain itu, dampak dari krisis mata uang Lira Turki dan Argentina juga masuk radar Bank Sentral.

Indonesia sudah menaikkan suku bunga acuannya lima kali dengan dosis 1,25 persen pada tahun ini guna menangkal tekanan terhadap rupiah.

Selain itu cadangan devisa sejak akhir 2017 hingga akhir Agustus 2018 ini telah menurun 12,3 miliar dolar AS yang salah satu penggunaannya untuk keperluan stabilisasi nilai tukar rupiah, berdasarkan perhitungan merujuk data BI.

Dody mengatakan Bank Sentral masih mempertimbangkan opsi kenaikan suku bunga acuan pada September 2018 dengan menyesuaikan terhadap perkembangan data ekonomi terbaru.

BI akan menggelar rapat dewan gubernur untuk memutuskan kebijakan terbaru pada 26-27 September 2018. (dra)

Berita Terkait

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama
FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025
Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?
Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan
Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek
Kasus Jiwasraya: Tanah Benny Tjokro Bogor Dilelang, Negara Kumpulkan Rp18 M
ICC Singapura Jadi Arena Gugatan Kontrak Satelit: Indonesia Siapkan Bukti Lengkap Lawan Detenté Operation
TRUE Optimistis Proyek District East Meningkatkan Laba dan Valuasi Aset

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 23:53 WIB

PROPAMI Gelar SIAR Ramadhan 1447 H, Kepedulian Sosial Jadi Agenda Utama

Kamis, 14 Agustus 2025 - 11:43 WIB

FUTR, Energi Baru, dan Strategi Lippo yang Bisa Ubah Valuasi Saham di 2025

Jumat, 1 Agustus 2025 - 07:16 WIB

Sinarmas dan Taspen Disorot: Di Mana Rp1 Triliun Dana Pensiun Menguap?

Senin, 28 Juli 2025 - 09:59 WIB

Terima Rp70 Miliar dari Perkara Gula, Zarof Ricar Bongkar Jaringan

Kamis, 17 Juli 2025 - 14:29 WIB

Dokumen Investasi GoTo Terungkap dalam Investigasi Korupsi Chromebook Kemendikbudristek

Berita Terbaru