Mediaemiten.com, Jakarta – Seiring dengan melemahnya nilai tukar (kurs) dolar terhadap mata uang negara lain, rupiah diperkirakan bartahan pada kisaran Rp14.800 per dolar AS, setelah pagi ini ditransaksikan antarbank melemah tipis sebesar delapan poin menjadi Rp14.881 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.873 per dolar AS.
Ekonom Samuel Sekuritas, Ahmad Mikail di Jakarta, Jumat (7/9/2018), mengatakan pergerakan dolar AS cenderung terbatas menyusul pelemahan data tenaga kerja Amerika Serikat.
Ia memaparkan Moody’s analytic melaporan bahwa perusahaan swasta menambah sekitar 163 ribu tenaga kerja baru pada Agustus lebih rendah dari ekspektasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pelemahan data itu memperkuat keyakinan investor bahwa The Fed tidak akan terlalu agresif untuk menaikan tingkat suku bunga,” katanya.
Ia mengatakan bahwa pergerakan dolar AS yang terbatas terhadap sejumlah mata uang dunia kemungkinan akan membantu penguatan mata uang negara-negara berkembang termasuk rupiah.
“Intervensi ganda Bank Indonesia (BI) di pasar surat utang dan pasar valas diperkirakan akan juga membantu penguatan rupiah,” katanya.
Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra mengatakan laju mata uang dolar AS cenderung tertahan setelah muncul kabar mengenai negosiasi perdagangan Amerika Serikat dan Kanada mengalami kemajuan.
Baca Juga:
Dari Budaya Etnik Li hingga Asian Beach Games: Sanya Tampilkan Identitas Budaya Sambut Tamu Asia
Dahua Technology Luncurkan Laporan ESG 2025: Dorong Pembangunan Berkelanjutan lewat Inovasi Digital
CGTN: Awal yang Solid dalam Repelita Ke-15 Tiongkok, Apa Maknanya?
“Dolar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia di tengah meredanya kekhawatiran terhadap tensi perdagangan global, situasi itu mendukung permintaan aset di negara berkembang,” katanya. (zub)







