Pefindo Turunkan Peringkat PT Aneka Tambang Jadi negatif, Ini Penyebabnya

- Pewarta

Minggu, 7 Juni 2020 - 07:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mediaemiten.com, Jakarta – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menegaskan peringkat “idA” kepada PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan Obligasi Berkelanjutan I/2011. Peringkat tersebut menjadi Negatif dari Stabil.Prospek untuk peringkat Perusahaan direvisi menjadi “negatif” dari “stabil” untuk mengantisipasi penurunan EBITDA yang diakibatkan oleh harga jual nikel dan volume penjualan emas yang lebih rendah dari ekspektasi.

“Situasi yang tidak pernah terjadi sebelumnya akibat Coronavirus disease (COVID-19) pandemi mendorong kami untuk merevisi ekspektasi volume penjualan dan harga komoditas ANTM menjadi lebih rendah dari proyeksi terakhir kami,” kata Analis Pefindo, Niken Indriasih, dalam rilisnya, di Jakarta, Kamis (4/6/2020).

Dijelaskan, sejak COVID-19 pertama diidentifikasi pada akhir Desember 2019, harga nikel global turun sebanyak 12 persen dari USD13.723 per ton menjadi USD12.128 per ton pada 27 Mei 2020. Pandemi mengakibatkan lockdown di beberapa negara juga mempengaruhi penjualan ekspor emas ANTM, yang diperkirakan akan menurun.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meskipun manajemen ANTM mengaku akan fokus untuk meningkatkan penjualan emas lokal, yang memiliki margin yang lebih tinggi dibandingkan penjualan ekspor, namun permintaan dari pasar retail emas domestik mungkin agak melemah karena tingginya harga emas ditengah daya beli masyarakat yang melemah saat ini.

Selain itu, ANTM juga telah mengambil beberapa beberapa inisiatif untuk mempertahankan posisi biaya yang rendah dan memitigasi penurunan EBITDA dengan melakukan efisiensi biaya, pandemi COVID-19 yang berkepanjangan dapat mempengaruhi profil kredit ANTM dalam jangka waktu dekat hingga menengah.

Ia menjelaskan bahwa Obligor dengan peringkat idA memiliki kemampuan yang kuat dibandingkan obligor Indonesia lainnya untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya.

“Walaupun demikian, kemampuan obligor mungkin akan mudah terpengaruh oleh perubahan buruk keadaan dan kondisi ekonomi dibandingkan obligor dengan peringkat lebih tinggi,” terangnya.

Menurut Niken, peringkat mencerminkan sumber daya dan cadangan ANTM yang cukup besar, posisi yang kuat di industri yang didukung oleh produk pertambangan yang terdiversifikasi, dan kegiatan operasional yang terintegrasi secara vertikal.

Namun, peringkat dibatasi oleh leverage keuangan yang tinggi dan paparan terhadap fluktuasi atas harga komoditas. Peringkat dapat diturunkan jika pandemi terus berlangsung hingga 2021 yang dapat menunda pemulihan ekonomi global dan berdampak negatif bagi harga komoditas dan permintaan global, hal ini juga akan berpengaruh terhadap operasi bisnis dan profil keuangan ANTM.

Peringkat juga bisa berada di bawah tekanan jika Perusahaan mencatatkan utang yang lebih tinggi dari ekspektasi tanpa dikompensasi dengan peningkatan EBITDA dan/atau gagal menyelesaikan proyek ekspansi tepat waktu. Kami dapat revisi prospek menjadi stabil jika Perusahaan mampu memperkuat EBITDA ditengah keadaan yang tidak begitu baik saat ini dan meningkatkan credit matrix menjadi lebih konservatif.

“Kami akan terus memantau efek COVID-19 terhadap kinerja dan profil keuangan Perusahaan dalam jangka waktu dekat hingga menengah,” pungkasnya. (mit)

Berita Terkait

Resmi Dibuka, Astra Auto Fest 2025 Semarak Beragam Promo dari Grup Astra
Pasar Modal Indonesia Waspada, CSA Index September 2025 Terkoreksi
Strategi BUMI Kuasai Wolfram, Tambang Emas Jumbo di Queensland Australia
Analisis: Keterlambatan Laporan Keuangan Picu Asimetri Informasi di Pasar
Strategi SMMA Konversi Utang Jadi Saham, Langkah Cerdas Atasi Beban Finansial
CSA Index RI Agustus Tertinggi Sejak Awal Tahun
Strategi Baru Remala Abadi: Transaksi Saham Komisaris Tingkatkan Kontrol Bisnis
Pasca Keluar dari LQ45, SIDO Pindah Fokus dari Domestik ke Internasional

Berita Terkait

Jumat, 5 Desember 2025 - 18:00 WIB

Resmi Dibuka, Astra Auto Fest 2025 Semarak Beragam Promo dari Grup Astra

Jumat, 12 September 2025 - 22:03 WIB

Pasar Modal Indonesia Waspada, CSA Index September 2025 Terkoreksi

Rabu, 20 Agustus 2025 - 15:17 WIB

Strategi BUMI Kuasai Wolfram, Tambang Emas Jumbo di Queensland Australia

Rabu, 20 Agustus 2025 - 10:11 WIB

Analisis: Keterlambatan Laporan Keuangan Picu Asimetri Informasi di Pasar

Senin, 18 Agustus 2025 - 11:46 WIB

Strategi SMMA Konversi Utang Jadi Saham, Langkah Cerdas Atasi Beban Finansial

Berita Terbaru