Wall Street Anjlok Terseret Memanasnya Konflik Ukraina

- Pewarta

Jumat, 1 April 2022 - 07:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi: Suasana bursa saham di Wall Street, AS/DOk

Foto ilustrasi: Suasana bursa saham di Wall Street, AS/DOk

 




MEDIA EMITEN Tiga indeks utama saham di bursa Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), menutup kuartal pertama dengan penurunan kuartalan terbesar sejak pandemi pada 2020. Pasar khawatir kembali memanasnya konflik di Ukraina dan dampak inflasinya terhadap harga-harga, serta respons Federal Reserve.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 550,46 poin atau 1,56% menjadi 34.678,35 poin. Indeks S&P 500 turun 72,04 poin atau 1,57% menjadi 4.530,41 poin. Nasdaq Composite jatuh 221,75 poin atau 1,54% menjadi 14.220,52 poin.

Sementara S&P memang mengalami kuartal terburuk sejak pandemi COVID-19 terjadi di Amerika Serikat pada 2020, saham agak rebound pada Maret.

Untuk kuartal tersebut, indeks S&P 500 turun 4,9%, Dow Jones kehilangan 4,6%, dan Nasdaq anjlok 9,1%. Tetapi untuk Maret S&P 500 naik 3,6%, Dow Jones naik 2,3% dan Nasdaq terangkat 3,4%.

Amerika Serikat memberlakukan sanksi baru terkait Rusia, dan Presiden AS Joe Biden meluncurkan pelepasan terbesar dari cadangan minyak darurat negara itu dan menantang perusahaan-perusahaan minyak untuk mengebor lebih banyak dalam upaya menurunkan harga bensin yang melonjak selama perang di Ukraina.

Harga-harga saham telah menjadi sensitif terhadap tanda-tanda kemajuan menuju pakta perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Inflasi AS yang sudah tinggi telah meningkat dengan melonjaknya harga-harga komoditas seperti minyak dan logam sejak perang dimulai.

Seiring kenaikan harga-harga, The Fed menjadi semakin mungkin untuk menjadi lebih agresif dalam menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi, yang berpotensi membatasi pertumbuhan ekonomi.

Data pada Kamis (31/3/2022) menunjukkan harga konsumen hampir tidak naik pada Februari karena tekanan harga meningkat, sementara pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) tidak termasuk makanan dan energi naik 0,4 persen, sesuai dengan ekspektasi.

Investor akan melihat ke laporan pekerjaan pada Jumat untuk konfirmasi lebih lanjut tentang kekuatan pasar tenaga kerja dan wawasan tentang kemungkinan jalur kebijakan moneter oleh bank sentral AS.

Volume transaksi di bursa AS mencapai 12,08 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 13,9 miliar saham untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir. (LS)

Berita Terkait

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen
BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru
Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO
Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman
Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS
Di Plains, Georgia, Presiden Amerika Serikat ke-39 Jimmy Carter Meninggal Dunia pada Usia 100 Tahun
Presiden Suriah Bashar al-Assaddan dan Anggota Keluarganya Dikabarkan Telah Tiba di Moskow
Ketua BNSP Sampaikan Komitmen Penguatan Standar Halal Global melalui Kerjasama dengan Korea Muslim Federation

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:38 WIB

Nissan Kehilangan Investor Besar, Saham Merosot Hingga 6 Persen

Senin, 7 Juli 2025 - 10:04 WIB

BRICS Jadi Alternatif G7, Indonesia Ambil Posisi Strategis di Tatanan Baru

Kamis, 3 April 2025 - 14:25 WIB

Perusahaan Otomotif Volvo Ungkap Alasan Tunjuk Mantan CEO Håkan Samuelsson Kembali Menjadi CEO

Rabu, 12 Februari 2025 - 13:24 WIB

Elon Musk Tawar Perusahaan pada Harga 97,4 Miliar Dolar AS, Begini Respons CEO OpenAI Sam Altman

Senin, 3 Februari 2025 - 08:04 WIB

Jepang Khawatir Berdampak Negatif Terhadap Perekonomian Global, Terkait Kebijakan Tarif AS

Berita Terbaru