MEDIA EMITEN – Tiga indeks utama saham di Bursa Wall Street melonjak pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), dengan indeks Nasdaq melesat 3% lebih menyusul laporan kuartalan yang kuat dari Meta Platform. Saham-saha teknologi yang terpukul beberapa hari ini, semalam naik tajam.
Saham Meta Platform, induk Facebook melejit 17,6% setelah jejaring sosial itu melaporkan laba yang lebih besar dari perkiraan dan pulih dari penurunan pengguna.
Semua 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor layanan teknologi dan komunikasi memimpin kenaikan, masing-masing melonjak 4,04% dan 3,89%.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Indeks Dow Jones Industrial Average melambung 614,46 poin atau 1,85%, menjadi 33.916,39 poin. Indeks S&P 500 bertambah 103,54 poin atau 2,47% menjadi 4.287,50 poin. Nasdaq Composite melonjak 382,60 poin atau 3,06% menjadi ditutup pada 12.871,53 poin.
Saham teknologi lainnya, Qualcomm melonjak 9,7% , setelah pembuat chip itu memperkirakan pendapatan kuartal ketiga di atas ekspektasi analis. Saham raksasa teknologi AS lainnya, seperti Apple, Amazon, Netflix, dan induk Google, Alphabet, semuanya ditutup lebih tinggi.
Apple Inc perusahaan paling berharga di dunia, dan raksasa e-commerce Amazon.com Inc keduanya menguat lebih dari 4% menjelang laporan keuangan triwulanan mereka di kemudian hari.
Sebelunya, investor telah membuang saham-saham pertumbuhan tinggi selama berminggu-minggu, karena kekhawatiran tentang inflasi, kenaikan suku bunga dan potensi perlambatan ekonomi. Bahkan dengan kenaikan kuat pada Kamis (28/4), Nasdaq yang berbasis teknologi turun hampir 10% pada April, berada di jalur penurunan satu bulan terdalam sejak Maret 2020.
Baca Juga:
“Ketika suku bunga, jalur inflasi, dan apa yang akan dilakukan The Fed sangat fluktuatif, itu berarti perkiraan harga setiap aset lain jauh lebih sulit,” kata Zach Hill, kepala Strategi Portofolio di Horizon Investments di Charlotte, North Carolina.
Ekonomi AS secara tak terduga berkontraksi pada kuartal pertama karena kasus COVID-19 melonjak lagi, dan uang bantuan pandemi pemerintah turun.
Penurunan pertama dalam produk domestik bruto sejak resesi pandemi pendek dan tajam hampir dua tahun lalu, dilaporkan oleh Departemen Perdagangan, sebagian besar didorong oleh defisit perdagangan yang lebih luas karena impor melonjak, dan perlambatan laju akumulasi persediaan.
Perang Ukraina, penguncian COVID China, dan lonjakan inflasi telah membebani prospek ekonomi global, memicu volatilitas menjelang pertemuan Federal Reserve Mei minggu depan. Pengamat Fed memperkirakan kenaikan suku bunga 50 basis poin.
Baca Juga:
Hikvision Hadirkan Guanlan Encoding, Teknologi AI yang Pangkas Biaya Penyimpanan Video hingga 50%
SK Innovation E&S Memimpin Inovasi dalam Ekosistem Startup untuk Pemuda di Indonesia
Volume perdagangan di bursa AS mencapai 12,3 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 11,8 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir. Di seluruh pasar saham AS, saham yang naik melebihi jumlah yang turun dengan rasio 2,6 banding satu.








